Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Masih ingat kasus warga negara (WN) Inggris yang menampar staf Imigrasi Bandara Ngurah Rai Bali? Ya, Auj-e Taqaddas pelaku penamparan itu hampir satu tahun berada di Indonesia karena ulahnya. Kini setelah paspornya ditahan dan harus berurusan dengan hukum, wanita ini merengek ingin pulang ke negaranya agar bisa kumpul keluarga.

Namun Taqaddas seperti tak jera dengan terus bersikap arogan. Pekan lalu, dia membuat onar saat persidangan dengan tidak menghormati pengadilan Indonesia. Dia sengaja terus berbicara tanpa izin sehingga majelis hakim marah dan menghardiknya.

Dalam persidangan Senin (17/12/2018) kemarin, Taqaddas sedikit lebih tertib. Namun ia sering nyerocos dengan merengek ke majelis hakim agar kasusnya cepat selesai. “Yang Mulia, kapan saya bisa pulang? Saya mau Natalan dan tahun baru bersama keluarga,” tanya Taqaddas kepada majelis hakim di PN Denpasar.

“Kami juga belum tahu kapan saudara bisa pulang. Kami hanya mengadili pemukulan. Kami akan membantu Anda,” jawab anggota majelis hakim Angeliki Handayani.

Taqaddas juga terus nyerocos meminta paspornya dikembalikan. Namun hal itu ditolak hakim. Tak puas, Taqaddas terus bertanya kenapa persidangannya nanti ditunda hingga 7 Januari 2019. Wanita ini juga meminta izin mencetak surat elektronik (email) permohonan menghadirkan saksi yang dikirimnya ke Konsulat Inggris maupun Kementerian Luar Negeri. Hakim pun menjelaskan dokumen tersebut agar disediakan pada sidang selanjutnya, yakni Senin (7/1/2019).

“Kalau 7 Januari surat-surat maupun saksi-saksi meringankan lengkap, minggu depannya tuntutan, minggu depannya putusan. Saudara jangan terlalu banyak bicara biar semua proses bisa cepat,” jelas Hakim Kiki.

Taqaddas masih ngeyel dan minta agar sidang dilanjutkan. Sebab, dia bisa menunjukkan email yang dia kirim lewat ponselnya atau minta waktu agar diizinkan keluar sebentar untuk mencetak suratnya itu, tanpa harus menunda sidang hingga 7 Januari.

“Anda tidak ready, sidang masih banyak. Kalau Saudara kooperatif dan tidak berbelit-belit, lebih cepat sidang selesai,” tegas ketua majelis hakim Esthar Oktavani sambil mengetuk palunya.

Perlu diketahui, Taqaddas terlibat keributan saat hendak meninggalkan Bali hendak menuju Singapura pada Juli 2018. Saat dicek, ternyata paspornya bermasalah sehingga petugas Imigrasi menggiringnya ke ruang pemeriksaan.

Di ruang itu, Taqaddas malah marah-marah dan menampar petugas Imigrasi. Video kasus ini sempat viral beberapa bulan lalu dan berlanjut ke proses hukum.. @DC/LI-15