Advertisement
LENSAINDONESIA.COM: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis jumlah korban meninggal akibat tsunami Selat Sunda bertambah menjadi 431 orang.
Jumlah korban meninggal tersebut bertambah setelah tim pencarian menemukan jenazah yang tertimbun puing-puing bangunan.
 
Sebelumnya, BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat tsunami yang melanda wilayah Propinsi Banten dan Lampung pada 22 Desember 2018 itu mencapai 426 orang.
“Tim pencarian dan pertolongan gabungan terus mencari korban yang berada di bawah puing-puing material hanyutan tsunami,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui pesan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (29/12/2018).

Sutopo mengatakan, tim pencarian dan pertolongan gabungan menemukan jenazah korban di sekitar pantai Pandeglang dan Serang.

Selain korban meninggal, 15 orang juga dilaporkan masih hilang, sementara 7.200 orang lainnya mengalami luka-luka dan 46.646 orang mengungsi di berbagai tempat yang tersebar.

“Penanganan pengungsi terus dilakukan dengan mengirimkan bantuan logistik. Tiga helikopter BNPB hilir mudik mengirim bantuan ke beberapa desa di Kecamatan Sumur, Pandeglang,” jelasnya.

Sementara itu, tsunami di Selat Sunda juga menyebabkan sejumlah kerusakan terhadap sejumlah sarana dan prasarana, yaitu 1.527 rumah rusak berat, 70 rumah rusak sedang dan 181 rumah rusak ringan.

Selain itu, 78 penginapan dan warung, 434 perahu dan kapal dan beberapa fasilitas umum juga mengalami kerusakan.

Tsunami Selat Sunda terjadi akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (22/12/2018).

Lima kabupaten di dua provinsi terdampak tsunami tersebut, yaitu Pandeglang dan Serang di Provinsi Banten serta Lampung Selatan, Pesawaran dan Tanggamus di Provinsi Lampung.@LI-13