Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Sudah 9 bulan masuk DPO, oknum wartawan peminta sumbangan masih bebas berkeliaran
Syamsul Arifin sudah 9 bulan masuk DPO polisi
HEADLINE

Sudah 9 bulan masuk DPO, oknum wartawan peminta sumbangan masih bebas berkeliaran 

LENSAINDONESIA.COM: Oknum wartawan peminta sumbangan ke kafe-kafe, Syamsul Arifin, sampai saat ini masih belum ditemukan meskipun sudah 9 bulan dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) polisi.

Syamsul Arifin yang berlagak jagoan dan marah-marah saat minta sumbangan lalu memukul waitress kafe Santoso Jl Kenjeran, Ikhtiya Kustiyanginsih (49), resmi ditetapkan sebagai DPO oleh Polsek Simokerto pada Jumat (13/4/2018) lalu.

Hal ini dilakukan polisi setelah pembawa proposal sumbangan ini 2 kali mangkir dari panggilan untuk dilimpahkan ke Kejaksaan serta 2 kali juga tak ditemukan dalam upaya jemput paksa.

Kapolsek Simokerto Kompol Masdawati Saragih saat dikonfimasi, Kamis (2/1/2019), menjelaskan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk bisa meringkus oknum wartawan ini. Mulai dari mendadak mendatangi rumah Syamsul di Jl Kalimas Baru III, Surabaya, hingga mencarinya ke daerah asalnya di Madura. “Bahkan anak istrinya tak pernah dikunjungi lagi. Rupanya dia benar-benar ketakutan sehingga tak berani pulang,” jelasnya.

Terkait lamanya langkah polisi dalam menangkap Syamsul Arifin, Kompol Masdawati mengaku pihaknya sediri juga gemes dan sangat ingin oknum wartawan ini segera ditangkap lalu diadili di persidangan. “Saya juga gemes ini Mas. Anggota dan informan juga sudah disebar untuk menyelidiki keberadaannya. Tapi sampai saat ini belum ada hasil. Ini jadi semacam PR (pekerjaan rumah) bagi saya juga,” pungkasnya.

Sebelumnya, oknum wartawan ini mangkir dari panggilan Polsek Simokerto untuk dilimpahkan ke Kejari Surabaya pada 26 Maret 2018 lalu karena berkas kasus penganiayaannya sudah P-21 dan siap disidangkan. Dia dijerat pasal 351 ayat 1 KUHP. Syamsul Arifin juga gagal ditemukan dalam 2 kali upaya jemput paksa yang dilakukan petugas Polsek Simokerto pada Rabu (4/4/2018) dan Selasa (10/4/2018).

Baca Juga:  Polisi gagalkan 2 juta pil koplo masuk Surabaya jelang pesta tahun baru

Kasus ini sendiri bermula saat Syamsul Arifin dilaporkan ke Polsek Simokerto dan Polrestabes Surabaya karena melakukan penganiayaan saat mengirim proposal permohonan bantuan sumbangan untuk acara ulang tahun kantornya, Desember 2017 lalu. Dia dilaporkan menganiaya waitress Kafe Santoso, Ikhtiya Kustiyaningsih (47) dan Woeng Che Siu alias Ciker yang juga akrab dipanggil Cisam.

Ikhtiya yang melapor ke Polsek Simokerto langsung melakukan visum dan menerima tanda bukti lapor LP/124/XII/2017/SMKT, dengan nama terlapor Syamsul Arifin, alamat Jl Kalimas Baru III.

Hal yang sama juga dilakukan Cisam. Pemilik Kafe Santoso ini juga melaporkan kasus penganiayaan ini ke Polrestabes Surabaya karena bibir dalamnya pecah kena pukulan dan dahinya tergores. Usai melakukan visum, dirinya mendapat surat tanda lapor polisi nomor: STTLP/950/XII/2017/Jatim/Restabes Surabaya.

Sedangkan Syamsul Arifin yang mengetahui dirinya dilaporkan dalam kasus penganiayaan juga melapor ke Polsek Simokerto dengan mengaku jadi korban pengeroyokan. Cisam sendiri sudah menjalani hukuman 3 bulan penjara akibat terlibat baku hantam dengan Syamsul.

Selain jadi DPO Polsek Simokerto, Syamsul Arifin juga masuk DPO Polrestabes Surabaya sejak Juli 2018 atas laporan Woeng Che Siu.

Kepastian mengenai status DPO ini disampaikan Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya AKP Agung Widoyoko mendampingi Kasat Reskrim AKBP Soedamiran. “Kasusnya sudah dilakukan gelar perkara akhir bulan lalu. Saat ini tersangka resmi jadi DPO setelah tak hadir saat dipanggil dan tak ditemukan saat dilakukan pencarian,” tegasnya, Rabu (11/7/2018).

Dengan ditetapkannya status DPO oleh Polrestabes Surabaya ini, maka Syamsul Arifin resmi menjadi 2 buronan dalam dua berkas laporan kasus penganiayaan.@LI-15