Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Terapkan sistem remunerasi, ASN Pemprov Jatim diminta jadi agent of change
Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat memimpin Apel Pagi bersama seluruh Pimpinan OPD Jatim bersama para ASN Setdaprov Jatim di Halaman Kantor Gubernur Jatim, Jalan Pahlawan Surabaya, Rabu (02/01/2019). FOTO: Sarifa-LICOM
Birokrasi

Terapkan sistem remunerasi, ASN Pemprov Jatim diminta jadi agent of change 

LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di jajaran Pemprov Jatim bisa menjadi agen perubahan (agent of change) di tahun 2019.

Permintaan itu ditegaskan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Jatim.

Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim ini menekankan ASN harus bisa mengejar bola dalam rangka membuat inovasi dalam meningkatkan kualitas SDM. Sebagai contoh, di sektor pendidikan vokasional (pendidikan tinggi khusus penguasaan keahlian terapan tertentu) dimana harus bisa mengolah dan memfasilitasi terhadap upaya peningkatan SDM yang sudah diprogramkan dan dianggarkan.

ASN diharapkan juga ikut mencari solusi pendidikan vokasi yang bagus seperti apa.

“Bisa diambil contoh pendidikan vokasi di Jerman yang terbaik. ASN harus belajar dan mengecek tata kelola vokasi seperti apa. ASN sebagai regulator juga harus membuat peraturan dan fasilitasi, apabila terlambat maka fungsi ASN bukan lagi menjadi agent of change,” tegasnya usai memimpin Apel Pagi bersama seluruh Pimpinan OPD Jatim bersama para ASN di lingkungan Setdaprov Jatim di Halaman Kantor Gubernur Jatim, Jalan Pahlawan Surabaya, Rabu (02/01/2019).

Selain itu, ia mengingatkan soal prestasi kerja seorang ASN yang dimulai dari hal kedisiplinan. Apabila didasari dengan kedisiplinan, maka kinerja mereka akan menjadi lebih teratur dan tertata.

Apalagi menurut Pakde Karwo, hal kedisiplinan dan prestasi kerja merupakan proses yang berurutan. Kedua hal tersebut sangat berperan penting apabila bekerja sebagai ASN, khususnya dalam hal penilaian sistem remunerasi.

“Pada tahun ini, ASN di Pemprov Jatim sudah menerapkan sistem remunerasi. Oleh sebab itu agar mendapatkan penilaian yang bagus, tingkat kedisiplinan harus diperhatikan,” pesan gubernur dua periode ini.

Gubernur menyampaikan semua ASN akan mendapatkan remunerasi (imbalan/penghargaan dalam bentuk uang) sesuai dengan peraturan yang ada. Bukan hanya pejabat eselon saja, operator, analis, pengelola dan caraka akan mendapatkan remunerasi sesuai dengan standar dan kinerja.

“Bukan hanya ASN, tapi juga bagi para PTT-PK (Pegawai Tidak Tetap dengan Perjanjian Kerja) akan mendapatkan tambahan 60 persen dari penghasilan yang diterima,” ungkap Soekarwo.

Sementara, ketika remunerasi telah berjalan, maka hak yang lain tidak akan diberikan lagi, seperti uang sidang, atau honorarium panitia. Semua itu akan dihapus. Honorarium tersebut sudah digabungkan ke dalam penerimaan remunerasi.

“Komposisi penerimaan remunerasi adalah 30 persen prestasi kerja dan 70 persen dinilai dari kedisplinan,” imbuhnya.

Pemberian remunerasi, sebut Pakde Karwo, tidak bersamaan dengan gaji yang diberikan pada awal bulan. Tetapi, pemberiannya akan diberikan pada akhir bulan.

“Pastinya, semua penilaian remunerasi sudah dilakukan secara terukur dan sudah divalidasi oleh KPK dan Menpan RB,” tandas gubernur yang bakal mengkahiri masa jabatannya per 12 Februari mendatang.@sarifa