Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Sub-kontraktor proyek Gedung Kelurahan Gunung Anyar siap tempuh jalur hukum
Direktur CV Chrisida Coorporate Sunarto (kiri) dan Direktur PT Cakrawala Sakti Kirana, Pitut Ananta Putra (merah) saat menandatangani perjanjian kontrak kerja di Notaris Subiyanto, 4 Desember 2018. FOTO: dok.LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Sub-kontraktor proyek Gedung Kelurahan Gunung Anyar siap tempuh jalur hukum 

LENSAINDONESIA.COM: Proyek pembangunan Gedung Type C2 Kelurahan Gunung Anyar Surabaya tidak rampung sesuai dengan kontrak.

Proyek yang dikerjakan PT Cakrawala Sakti Kirana dengan nilai kotrak Rp 4.354.209.000 tidak terselesaikan hingga batas waktu yang ditentukan, yaitu 31 Januari hingga 28 Agustus 2018. Progres pengerjaan bangunannya pun dipastikan tidak sampai 80 persen.

Karena tidak mampu menyelesaikan pekerjaan seuai dengan kontrak, Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Surabaya akhirnya menjatuhkan sanksi berupa blacklist terhadap PT Cakrawala Sakti Kirana.

Blaklist tertanggal 3 Desember 2018 tersebut ditandatangani oleh T. Iman Kristian Maharhandono selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Anehnya, meski telah diblacklist, pada 4 Desember 2018, Pitut Ananta Putra nekat melakukan kontrak kerja dengan CV Chrisida Coorporate untuk sisa progres pekerjaan 29,56%. Akibatnya, CV Chrisida yang bertindak selaku sub-kontraktor tersebut pun terancam tidak terbayar.

Sunarto, Direktur CV Chrisida Coorporate Sunarto mengaku dirugikan atas kontrak kerja ini.

Pria asal Sidoarjo ini tidak tahu bila pada 3 Desember 2018 PT Cakrawala Sakti Kirana telah di-blacklist. Sehingga pihaknya menerima tawaran kontrak kerja dari kontraktor yang beralamat di Jl Nginden Baru IV/18 Surabaya itu.

Sunarto mengungkapkan, dirinya menerima tawaran kerjasama PT Cakrawala itu setelah diperkenalkan dengan Pitut oleh Adi Winarno.

“Kami mengerjakan proyek Gedung Kelurahan Gunung Anyar itu setelah melakukan perjanjian kontrak kerja dengan PT Cakrawala Sakti Kirana di notaris tanggal 4 Desember 2018. Hampir sebulan saya kerjakan proyek itu, tetapi Pak Pitut (Direktur PT Cakrawala Sakti Kirana) diam saja, tidak memberitahu kalau pihaknya telah di-blacklist. Ya wajarlah saya merasa tertipu. Apalagi bila cek yang kami terima dari Pak Pitut ini tidak bisa dicairkan,” ungkap Sunarto saat ditemui lensaindonesia.com di Surabaya, Rabu (02/01/2019).

Baca Juga:  Tantangan besar yang perlu dijawab Nadiem Makarim di dunia pendidikan

Menurutnya cek senilai Rp 470.000.000 tersebut diterimanya dari Pitut setelah dirinya beberapa kali menagih pembayaran. Sesuai perjanjian kontrak kerja nilai kontrak untuk sisa progres pekerjaan 29,56% adalah Rp 1.200.000.000.

“Selama hampir sebulan proyek saya kerjakan, beberapa bagian sudah terselesaikan misalnya pemasangan tembok, keramik, banyaklah. Gaji pekerja dan pembelian material pakai uang saya. Jadi bila cek dari Pak Pitut ini tidak bisa dicairkan, pasti akan saya perkarakan melalui jalur hukum, tegasnya.@LI-13