Advertisement

LENSAINDONEAIA.COM: Menajemen Persebaya melaporkan Jawa Pos ke Polrestabes Surabaya atas alasan pencemaran nama baik, Senin (07/01/2019).

Laporan ini dipicu pemberitaan Jawa Pos berjudul “Green Force Pun Terseret” edisi Minggu 6 Januari 2019. Dalam berita itu, Jawa Pos mengungkap dugaan pengaturan skor pertandingan (Match Fixing) saat Persebaya menghadapi Kalteng Putra di Pentas Liga 2 pada 27 Oktober 2018 lalu.

Mantan manajer Persebaya, Chairul Basalamah dan Cholid Ghoromah, juga turut melaporkan media cetak tersebut lantaran nama mereka ikut dicatut dalam pemberitaan. Nama Chairul dan Cholid disebut-sebut sebagai aktor dugaan match fixing. Keduanya merasa dirugikan karena tuduhan tersebut dianggap fitnah.

Dalam berita itu, disebutkan Cholid dan Chairul melakukan match fixing bersama Vigit Waluyo pemilik klub PS Mojokerto Putra (PSMP) yang kini telah menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Sidoarjo karena kasus korupsi PDAM Sidoarjo.

Laporan atas permasalah pencematan nama baik ini diterima Polrestabes Surabaya dengan nomor STTLP/B/24/I/2019/JATIM/RESTABES SBY.

Manager Tim Persebaya Surabaya, Chandra Wahyudi menegaskan pihaknya tidak pernah meminta pemain atau siapapun untuk mengalah saat melawan Kalteng Putra di liga 2 pada 12 oktober 2017. Saat itu Persebaya kalah dengan skor 0-1.

“Kami mendominasi pertandingan, namun tidak membuahkan hasil. Sementara Kalteng Putra dapat menciptakan gol melalui serangan balik,” terang Chandra Wahyudi.

Di tempat yang sama Chairul Basamalah menyampaikan, saat pertandingan melawan Kalteng Putra, Persebaya tampil habis-habisan untuk memenangkan pertandingan. Namun meski menciptakan banyak peluang, namun tidak berbuah gol.

“Statistik maupun rekaman pertandingan bisa dijadikan bukti, Ada faktor non tekhnis sangat berat yang dihadapi Persebaya saat itu, dimana Putra pelatih Alfredo Vera kritis di rumah sakit. Lalu dua hari setelah pertandingan meninggal. Ini (Berita pengaturan skor) sangat kejam,” ujar Basalamah.

Sementara Cholid Ghoromah juga menegaskan, dirinya sudah lama tidak ikut campur dalam urusan tim Persebaya. Bahwa dia masih menjadi bagian Persebaya, sebatas kompetisi internal dan tim amatir.

“Saya tudak pernah ke Hotel Vasa yang saya disebut-sebut Jawa Pos naik lift untuk bertemu official Kalteng Putra,” tegasnya.

Sebelum membuat laporan Polisi, Management Persebaya terlebih dahulu melakukan diskusi dengan Kapolreatabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan, terkait pemberitaan tersebut. Managemen mengaku laporan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab Persebaya untuk terciptanya sepak bola yang bersih.

Rudi Setiawan pun menyambut baik niat manajemen Persebaya menempuh langkah hukum.

“Semua warga negara yang merasa dirugikan atau dicemarkan nama baiknya oleh pihak lain, berhak membuat laporan kepada polisi. Kami akan menerima, selanjutnya biarkan mesin kami bekerja untuk menyelidiki kebenarannya seperti apa,” ungkap Rudi.

Sementara itu, Yusron Marzuki dari komunitas Bonek Advokat selaku kuasa hukum Persebaya mengatakan, pihaknya melaporkan Jawa Pos atas dugaan pencemaran nama baik sesuai dengan UU ITE daan KUHP.

“Ini atas pemberitaan kemarin Minggu 6 Januari 2019 berjudul ‘Green Force pun terseret’ dan ini upaya kami mencari keadilan,” ungkap Yusron.@rofik