Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: mantan Ketua DPRD Surabaya yang pernah menjabat Kepala Biro Aset dan Ketua Tim Penjualan Aset PT Panca Wira Usaha (PWU) Jawa Timur, Wisnu Wardhana ditangkap petugas kejaksaan, Rabu pagi (09/11/2019).

Ketua DPRD Surabaya periode 2009-2014 itu ditangkap saat mengendarai mobil bersama keluarganya di Jl Kenjeran, Surabaya sekitar pukul 06.30 WIB.

Kepala Seksi Penerangan Umum (Kasi Penkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, Richard Marpaung membenarkan adanya eksekusi terhadap terpidana 6 tahun penjara dalam kasus korupsi aset PT PWU Jatim itu.

“Benar, sudah dilakukan eksekusi terhadap yang bersangkutan tadi pagi,” ungkapnya, Rabu pagi.

Kata dia, penangkapan Wisnu berlangsung dramatis. Sebab Wisnua yang sedang berada di dalam mobil sempat mencoba menghidar dari kejaran petugas. Karena itu, aksi kejar-kejaran pun terjadi.

Mobil bernopol M 1732 HG yang ditumpangi Wisnu itu tancap gas ketika petugas mencoba menghentikannya. Akibatnya, petugas kejaksaan yang mengejar menggunakan motor terpaksa menyalip untuk menghadang di depa

Bahkan, laju mobil Wisnu baru terhenti setelah menabrak dan melindas motor milik petugas kejaksaan yang menghadangnya.

“Motor yang digunakan petugas untuk menghalangi laju mobil Wisnu ditabrak,” ungkap Richard Marpaung.

Wisnu Wardhana saat dikeluarkan dari mobil oleh petugas kejaksaan. FOTO: alisindo

Tidak berhenti disitu, salah satu anak dari Wisnu juga sempat menyerang petugas saat terjadi penangkapan. “Anaknya Wisnu juga sempat menyerang petugas, tapi situasi berhasil dikendalikan,” ungkapnya.

Diketahui, eksekusi ini dilakukan kejaksaan setelah Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan hukuman selama 6 tahun penjara kepada Wisnu Wardhana.

Wisnu saat diamankan petugas kejaksaan. foto: istimewa/merdeka

Wisnu divonis terbukti bersalah melakukan korupsi pelepasan dua aset berupa tanah dan bangunan milik BUMD PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim di Kediri dan Tulungagung pada 2013.

Selain hukuman badan, Wisnu juga dihukum membayar denda Rp 200 juta. Apabila tidak sanggup membayar denda, maka akan digantikan dengan hukuman 6 bulan penjara.

MA juga memberikan hukuman tambahan, berupa membayar uang pengganti sebesar Rp 1.566.150.733. Jika tidak dibayar setelah putusan ini berkekuatan hukum tetap, maka harta bendanya akan disita oleh Kejaksaan. Namun, apabila hartanya tidak mencukupi, maka diganti dengan pidana penjara selama 3 tahun.

Sebelumnya, di tingkat Pengadilan Tipikor Surabaya pada April 2017 lalu, Wisnu dihukum 3 tahun penjara dan denda Rp 200 juta serta uang pengganti sebesar Rp 1,5 miliar.

Namun Wisnu mengajukan banding pada Pengadilan Tinggi Jawa Timur dan divonis 1 tahun penjara. Atas putusan PT ini, Kejaksaan pun mengajukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung. Dan hasilnya, MA mejatuhkan vonis 6 tahun penjara.

Selain Wisnu, mantan Menteri BUMN periode 2011 hingga 2014 Dahlan Iskan juga ikut terseret dalam pusaran kasus ini.

Dahlan yang pernah Direktur Utama PT PWU Itu pada April 2017 divonis 2 tahun penjara dan denda Rp 200 juta oleh Pengadilan Tipikor Surabaya. Namun karena alasan kesehatan, pemilik Jawa Pos grup itu hanya menjalani tahanan kota.

Dahlan juga mengajukan banding. Di tingkat Pengadilan Tinggi Jawa Timur, Dahlan divonis bebas. Atas Vonis ini, Kejaksaan pun melakukan upaya kasasi ke MA.

Atas kasus pelepasan dua aset milik PT PWU ini, negara dirugikan hingga sebesar Rp 11 miliar.@rofik