Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Proses saling nyinyir dan saling sindir antar kubu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden 2019 kali ini terbukti kontra produktif. Alih-alih semakin memupuk suara bagi masing-masing, langkah tersebut justru menjadikan publik muak.

Hal itu diketahui dari hasil riset Surabaya Survey Center (SSC). Direktur SSC Mochtar W. Oetomo menyebut jika 33,6 persen dari 100 persen responden mengaku muak dengan saling nyinyir serta serang dan perang ujaran kebencian antara dua kubub Paslon di Pilpres 2019.

“Hanya 11,4 persen yang mengaku bahwa hal itu menarik. Sementara 17,2 persen menganggap hal itu wajar dan 26,8 persen merasa bosan dengan apa yang terjadi itu. 11 persen sisanya mengaku tidak tahu atau tidak menjawab,” ujar Mochtar di Surabaya, Kamis (10/01/2019).

Menurut Mochtar, melalui hasil riset yang dihasilkan kali ini seharusnya bisa ditarik pelajaran bagi masing-masing kubu. Pola saling nyinyir sudah jelas tak efektif.

“Publik perlu narasi membangun. Butuh gagasan visi dan misi dari masing-masing paslon yang dipaparkan secara gamblang untuk bisa dimengerti dan menjadi alasan untuk memilih,” tegasnya.

Ia menekankan jika kedua kubu hanya dari saling nyinyir serta serang dan perang ujaran kebencian, publik tidak akan mendapatkan apa-apa. “Hanya seakan menonton drama saja. Perlu lebih dari itu. Terlebih ini pesta demokrasi untuk mencari pemimpin bangsa,” imbuhnya.

Hal lain, SSC mengungkapkan sesuai surveinya untuk kedua pasangan Capres-Cawapres, di Jatim masih dikuasai oleh nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin, khususnya soal elektabilitas sebesar 55,9 persen suara.

“Sementara untuk pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno mendapatkan 32,1 persen suara dan sebanyak 12 persen sisanya masih merupakan undecided voters,” ungkap Mochtar.

Dari perolehan yang didapat, apabila Pilpres dilakukan saat ini maka pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin bisa dipastikan menang di Jawa Timur.

“Tapi, karena Pemilu masih bulan April, dengan perolehan undecided voters yang mencapai 12 persen dan margin onf error sebanyak 3 persen maka semuanya masih sangat mungkin terjadi,” imbuh dia.

Sementara, untuk Prabowo-Sandiaga Uno juga dinilai masih mungkin mengejar ketertinggalan yang ada pada data saat ini.

“Meskipun tidak bisa dipungkiri pula saat ini pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin memimpin kontestasi dengan jarak yang cukup jauh,” tandas dia.

Survei SSC dilaksanakan mulai 10-20 Desember 2018 di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Riset yang dilakukan menggunakan 1.070 responden melalui teknik stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih sebanyak 3 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.@sarifa