Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Letusan Gunung Agung yang ada di Kabupaten Karangasem, Bali pada Kamis malam (10/01/2019) ternyata berdampak positif bagi kehidupan umat manusia.

Sebab, letusan gunung yang memiliki tinggai 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dapat menjadi efek pendingin di atmosfer bumi.

Imuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyampaikan, pihaknya telah memperhatikan letuasan Gunung Agung pada November 2017. Manurut NASA, semburan sulfur dari Gunung Agung dapat menjadi efek pendingin di atmosfer.

Dilaporkan The Independent pada Februari 2018, Gunung Agung dapat memompa gas sulfur dioksida ,yang memiliki efek pendingin, cukup tinggi ke atmosfer. Tetapi, letusan besar juga dapat merusak lapisan ozon untuk sementara waktu. Ini semua akan dipelajari oleh ilmuwan

Diketahui, Gunung Agung, Bali kembali erupsi Kamis tadi malam pada pukul 19.55 WITA.

Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo getaran maksimum sebesar 22 milimeter dengan durasi sekitar 4 menit 26 detik.

Menurut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) tinggi kolom abu tidak teramati. Gunung Agung masih berada di level III, atau siaga.

Masyarakat, pendaki, pengunjung, dan wisatawan diminta untuk menghindari aktivitas di wilayah zona perkiraan bahaya Gunung Agung. Zona perkiraan bahaya Gunung Agung berada di radius 4 kilometer dari kawah puncah Gunung Agung.

Perkiraan bahaya itu bersifat dinamis dan terus dievaluasi.

Sementara itu, masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung, diminta untuk mewaspadai potensi bahaya sekunder aliran lahar dingin.@LI-13