Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur menanggapi tuntutan dan vonis ringan terhadap Avian Aviksa, terdakwa pengedar narkoba jenis pil koplo di kalangan pelajar.

Sekertaris LPA Jatim Isa Ansori mengatakan, tuntutan ringan terhadap pengedarkan pil koplo terhadap kalangan pelajar tersebut merupakan bentuk pembiaran yang dilakukan aparat penegak hukum dalam hal ini adalah jaksa.

“Tuntutan ringan bagi para pengedar narkoba di kalangan anak-anak dan pelajar merupakan bentuk lain dari pembiaran terhadap peredaran narkoba. Dengan tuntutan yang ringan yang tidak sebanding dan dampak yang ditimbulkan akan membuat tidak jerahnya pelaku,” katanya kepada lensaindonesia.com di Surabaya, Kamis (10/01/2019).

Adanya indikasi para pengedar dan bandar pil koplo yang memanfaatkan anak-anak sebagai alat peredaran tersebut, lanjut Ansori, akan menghancurkan masa depan generasi bangsa.

“Tidakkah kita semua menyadari, bagaimana kalau anak-anak kita yang dimanfaatkan. Tentu kita sebagai orang tua tidak ingin masa depan anak kita hancur,” tambahnya.

Terkait adanya tuntutan ringan terhadap pengedar narkoba di kalangan pelajar di Surabaya, anggota Dewan Pendidikan Jatim ini meminta bagi pucuk pimpinan (jaksa) sebagai penegak hukum dan kehakiman agar memberikan teguran dan sanksi pada jaksa penuntut umum (JPU) yang bersangkutan.” Perlu ada teguran juga sanksi kepada siapapun dikalangan aparat yang memberi tuntutan hukuman ringan kepada pengedar” paparnya lebih lanjut.

Selain terhadap JPU Maryani Melindawati yang telah memberikan tuntutan super ringan, Isa Ansori juga meminta Hakim sebagai pengambil keputusan dilakukan hal yang sama.

“Perlu dilakukan teguran kepada hakim yang memberi putusan ringan terhadap kasus ini apalagi pelaku menggunakan anak-anak dan pelajar,” ujarnya.

Dalam kasus ini, Ansori mengapresiasi langkah yang dilakukan pihak sekolah SMK Kusuma Wijaya atas razia terhadap tiga anak didiknya yang kedapatan membawa 230 butir pil koplo dan melaporkan pengedarnya ke polisi.

“Berkait dengan tindakan sekolah, itu suatu langkah sangat positif. Saya kira sekolah perlu bekerjasama dengan stakeholder dalam upaya pencegahan peredaran narkoba agar anak-anak selalu mendapatkan perlindungan. Dalam hal itu sekolah bisa melakukan gerakan membangun kesadaran pelajar untuk tidak mudah tergiur dengan ajakan dari luar. Selanjutnya pihak sekolah bisa turut mensosialisasikan bahayanya narkoba dengan cara melihat langsung dampak yang didapatkan para pengguna narkoba,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, JPU Jaryani Melindawati dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya pada Rabu 9 Janiari 2019 menjatuhkan tuntutan ringan terhadap Avian Aviksa terdakwa pengedar retusan pil koplo.

Dalam membacakan tuntutan super singkat, istri dari Kasipenkum Kejati Jatim ini menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 197 UU RI no 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Terdakwa kemudian dituntut 1 tahun penjara dan denda Rp 1 juta subsieder 1 bulan kurungan.

Usai mendengar tuntutan, terdakwa yang mengedarkan pil koplo kekalangan pelajar ini, meminta keringan terhadap Majelis Hakim yang dipimpin Yulisar.

Sidang yang dilanjutkan dengan putusan tersebut, Ketua Majelis Hakim Yulisar mengabulkan permohonan terdakwa dengan memberikan keringanan hukuman selama 2 bulan.

“Setelah melakukan pertimbangan dengan hakim anggota, dengan menyatakan dan memutuskan pidana terhadap terdakwa Avin Aviaksa selama 10 bulan penjara, dengan denda Rp 1 juta subsieder 1 bulan kurungan,” ujar Yulisar dalam membacakan amar putusan.

Diketahui, Avin Aviaksa ditangkap petugas Unit Reskrim Polsek Winokromo pada Selasa 2 Okteber 2018 setelah mendapat laporan dari Guru SMK Wijaya Kusuma, Surabaya, yang sebelumnya melakukan razia internal sekolah terhadap tiga muridnya yang kedapatan membawa 230 pil koplo yang dibelinya secara patungan.

Dalam introgasi terhadap siswa yang masih duduk di kelas II tersebut, pihak guru mendapat nama terdakwa sebagai pengedar dan kemudian ditindaklanjuti dengan melapor ke Polsek Wonokromo.

Sementara, dari intrograsi polisi, terdakwa mengaku membeli 1000 Pil koplo dari Kecap (DPO) seharga Rp 1,1 juta, yang kemudian dijual Rp 20 ribu dalam 10 butirnya dimana pelanggannya banyak darinkalangan pelajar.@rofik