Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Kepsek SMK Kusuma Wijaya pun kecewa pengedar Pil Koplo pada pelajar dituntut ringan
LPA Jatim geram pengedar pil koplo di kalangan pelajar divonis ringan Maryani Melindawati saat sidang pembacaan tuntutan dan vonis di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (09/01/2019). FOTO: rofik-Licom
HEADLINE DEMOKRASI

Kepsek SMK Kusuma Wijaya pun kecewa pengedar Pil Koplo pada pelajar dituntut ringan 

LENSAINDONESIA.COM: Tuntutan dan vonis ringan terhadap Avian Aviaksa, terdakwa pengedar Pil Koplo di kalangan pelajar terus mendapat sorotan dari sejumlah pihak di Surabaya.

Kali ini, yang menyesalkan tuntutan dan vonis ringan untuk pengedar Pil Koplo asal Jl Jambangan Surabaya itu adalah pihak sekolah SMK Kusuma Wijaya.

“Saya tentu sangat kecewa. Anak didik kami telah menjadi korban. Saya yakin banyak pelajar-pelajar lain yang juga menjadi korbannya. Namun, oknum (Jaksa) penegak hukum, sangat mudah memberikan tuntutan ringan,” kata Soedjarwo Sasmito, Kepala Sekolah SMK Kusuma Wijaya kepada lensaindonesia.com.

Atas putusan ringan tersebut, Soedjarwo mencurigai adanya indikasi permainan yang dilakukan Jaksa penuntut umum (JPU) dengan terdakwa. “Kenapa kok dituntut ringan, kami mencurigai adanya permainan,” ujarnya.

Ia khawatir tuntutan ringan ini tidak ada efek jera yang diterima oleh para pengedar.

“Anak didik kami telah menjadi korban. Sebagai kepala sekolah saya tidak ingin ada generasi muda lainnya menjadi korban yang sama. Namun ulah oknum nakal ini yang telah melakukan pembiaran terhadap pemberantasan Narkoba,” sambungnya lebih lanjut.

“Pemerintah yang menyatakan perang terhadap narkoba, telah dihianati oleh oknum penegak hukumnya sendiri dan itu sebagai penghianatan terhadap Undang-undang,” tambahnya.

Demi penegakan hukum dan pemberantasan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan pelajar, Soedjarwo meminta Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Timur memeriksa oknum jaksa yang membuat tuntutan ringan tersebut.

“Kepala Kejaksaan Tinggi harus memeriksa anak buahnya, kalau tidak ini jadi preseden buruk bagi penegakan hukum,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jaryani Melindawati dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya pada Rabu 9 Januari 2019 menjatuhkan tuntutan ringan terhadap Avian Aviksa, terdakwa pengedar retusan pil koplo di kalangan pelajar.

Baca Juga:  Mahfud MD ingatkan bahaya pembelokkan demokrasi

Dalam membacakan tuntutan super singkat, istri dari Kasipenkum Kejati Jatim ini menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 197 UU RI no 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Terdakwa kemudian dituntut 1 tahun penjara dan denda Rp 1 juta subsieder 1 bulan kurungan.

Usai mendengar tuntutan, terdakwa yang mengedarkan Pil Koplo kekalangan pelajar ini, meminta keringan terhadap Majelis Hakim yang dipimpin Yulisar.

Sidang yang dilanjutkan dengan putusan tersebut, Ketua Majelis Hakim Yulisar mengabulkan permohonan terdakwa dengan memberikan keringanan hukuman selama 2 bulan.

“Setelah melakukan pertimbangan dengan hakim anggota, dengan menyatakan dan memutuskan pidana terhadap terdakwa Avin Aviaksa selama 10 bulan penjara, dengan denda Rp 1 juta subsieder 1 bulan kurungan,” ujar Yulisar dalam membacakan amar putusan.

Diketahui, Avin Aviaksa ditangkap petugas Unit Reskrim Polsek Winokromo pada Selasa 2 Okteber 2018 setelah mendapat laporan dari Guru SMK Wijaya Kusuma, Surabaya, yang sebelumnya melakukan razia internal sekolah terhadap tiga muridnya yang kedapatan membawa 230 pil koplo yang dibelinya secara patungan.

Dalam introgasi terhadap siswa yang masih duduk di kelas II tersebut, pihak guru mendapat nama terdakwa sebagai pengedar dan kemudian ditindaklanjuti dengan melapor ke Polsek Wonokromo.

Sementara, dari intrograsi polisi, terdakwa mengaku membeli 1000 Pil Koplo dari Kecap (DPO) seharga Rp 1,1 juta, yang kemudian dijual Rp 20 ribu dalam 10 butirnya dimana pelanggannya banyak darinkalangan pelajar.@rofik