LENSAINDONESIA.COM: BPBD Jawa Timur mengimbau bupati, walikota, camat hingga kades dan lurah untuk selalu waspada dan siap mengantisipasi potensi bencana sesuai peringatan BMKG. Hal itu menyusul 12 ancaman potensi bencana di Jawa Timur, mulai angin puting beliung hingga banjir bandang.

Menurut Kepala BPBD Jawa Timur, Subhan dari 12 ancaman potensi bencana itu, 11 di antaranya bencana alam dan 1 bencana non alam. “Wilayah Jatim merupakan jalur pertemuan lempeng tektonik. Banyak gunung berapi aktif dan punya pesisir laut serta kepulauan. Jatim juga dilalui siklon sehingga bila musim kemarau sering kekeringan dan saat musim hujan banyak daerah terkena banjir,” terangnya, Rabu (23/1/2019) pagi.

Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, 22 kabupaten/kota termasuk rawan banjir, salah satunya daerah sekitar Kali Welang Probolinggo. Ada juga 13 kawasan rawan longsor, seperti di Pacitan, Trenggalek, Pronorogo dan Banyuwangi. Selain itu 23 kabupaten berpotensi mengalami kekeringan, dan 156 desa di 8 kabupaten rawan terkena tsunami.

Mulai Desember 2018 sampai hari ini, BPBD Jatim mencatat telah terjadi 81 kali banjir, 6 banjir bandang, 105 kejadian angin kencang, puting beliung 32 kali, dan tanah longsor 42 kali.

“Kami memasang alat early warning system dan bersama gubernur menyiapkan 417 desa rawan bencana menjadi desa tangguh bencana. Termasuk memberi pemahaman cara evakuasi orang-orang lanjut usia, anak-anak, dan sosialisasi simulasi bencana,” terangnya.

Subhan menambahkan, terkait penanganan bencana, pusat pengendalian operasional BPBD di daerah sudah terkoneksi dengan BPBD Jatim dan BMKG. Sehingga apabila terjadi bencana, 7 menit sudah harus ada tindakan.

“Kami juga menggandeng angggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) dan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) untuk meningkatkan kualitas pelaporan. Kami juga punya relawan di daerah dan tim reaksi cepat kabupaten/kota. Tim ini akan segera datang untuk assesment kebutuhan di lokasi bencana,” pungkasnya. @LI-15