LENSAINDONESIA.COM: Bunga (nama samaran) nekat melapor ke polisi karena telah menjadi koban perbuatan asusila yang dilakukan oleh Ali Murahman, ayahnya sendiri,.

Mirisnya, gadis 23 itu telah 10 tahun menjadi pelampiasan nafsu ayahkan kandungnya.

Tak menunggu waktu lama, Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya pun bergerak menangkap Ali Murahman di rumahnya, Jl Karang Asem, pada Sabtu (26/01/2019) dini hari.

Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni mengatakan, pria yang berprofesi sebagai sopir taksi online itu teleh mencabuli korban sejak tahun 2008. Saat itu korban masih berusia 13 tahun.

Awalnya, kata Rith Yeni, Ali hanya menciumi dan meraba-raba bagian tubuh korban. Lama-kelaman tersangka memasukkan jarinya ke dalam kemaluan korban hingga mengeluarkan darah. “Jani merasa aman dalam aksi pertamanya, dua hari kemudian tersangka kembali melakukan perbuatanya, yaitu memasukkan jarinya ke kemaluan korban,” ungkapnya.

Setelah itu, Ali bukanya menghentikan perbuatanya, jutru ia semakin menjadi-jadi, ia pun tega menyetubuhi anak kandungya yang masih belia.

Menurut Ruth Yeni, perbuatan itu berlanjut karena tersangka merasa aman. Apalagi korban tidak berani melawan ketika diancam akan dipukul.

Di hari-hari selanjutnya, Ali secara selalu memaksa Bunga untuk berhubungan layaknya suami istri. Bahkan, hal itu dilakukanya rutin dua kali seminggu, saat istrinya tidak ada di rumah.

“Korban dijadikan budak seksnya yang dilakukan dua kali seminggu. Selama 10 tahun ini, tersangka melakukan aksinya dua kali seminggu dan terakhir dilakukan pada 21 Januari 2019 lalu,” ungkapnya.

Yeni mengatakan, setelah mengalami hidup penuh tekanan, korban akhirnya nekat melaporkan pelaku ke polisi.

“Sebelum ditangkap pelaku masih tiggal dan hidup rukun dengan sang istri. Itu tak lain karena sang istri tidak mengetahui tersangka sering melakukan pencabupan terhadap anak kandungnya itu. Bahkan, sang istri baru tahu tindakan bejat suaminya saat diamankan oleh aparat kepolisian,” ungkapnya.

Sementara dihadapan petugas, Ali mengaku perbuatannya dilakukan karena khilaf. Sebelum melakukan aksinya, tersangka mengaku terlebih dahulu melihat film porno. “Saya khilaf,” katanya.

Guna mempertanggung jawabkan perbuatannya, tersangka dijerat pasal 81-82 UU RI no 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UUU RI No 23 thn 2002 tentang perlindungan anak dan atau pasal 285 KUHP dan diancam pidana maksimal 15 tahun penjara.@rofik