Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
WITT usul tambahan aturan dalam Raperda Kawasan Tanpa Rokok Surabaya
Ketua Organisasi Wanita Tanpa Tembakau (WITT) Jawa Timur, Arie Soeripan Tyawati. FOTO: iwan-licom
HEADLINE JATIM RAYA

WITT usul tambahan aturan dalam Raperda Kawasan Tanpa Rokok Surabaya 

LENSAINDONESIA.COM: Organisasi Wanita Tanpa Tembakau (WITT) Jawa Timur menyambut baik adanya pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) oleh DPRD Kota Surabaya.

Agar kelak Raperda menjadi Perda (Peraturan Daerah) yang efektif , WITT Jatim akan mengajukan beberapa usulan.

“Sebelum Raperda resmi digedok menjadi Perda, kami akan ajukan usulan. Sesuai Undang-undang nomor 5 tahun 2008 tentang KTR, kami ingin ada pemilahan mana (tempat) yang bisa merokok dan mana yang tidak,” kata Ketua WITT Jatim, Arie Soeripan Tyawati di Surabaya, Selasa (29/01/2019).

Usulan yang diajukan WITT diantaranya, pertama meminta DPRD Surabaya memasukkan poin yang memperbanyak area dilarang merokok. Kedua WITT Jatim meminta DPRD Surabaya mengawasi realisasi Perda KTR saat sudah diterapkan. Sehingga Perda KTR tidak hanya sebatas aturan. Tapi ada penerapan kongkret. Misalnya soal larangan merokok di semua gedung pemerintahan, swasta, fasilitas umum, sekolah dan lokasi di sekitarnya.

Arie berharap di semua KTR yang ditetapkan juga disediakan tempat khusus merokok dan aturan tentang batas usia perokok. “Kami juga ingin ada aturan batas usia perokok. Paling tidak harus berusia 17 tahun ke atas. Supaya, menekan jumlah perokok dan ada gap (jarak) antara perokok dan non-perokok,” paparnya.

Menurutnya, masih banyak kantor pemerintahan dan swasta yang membolehkan karyawannya merokok. Apalagi dengan wilayah Surabaya cukup luas, banyak orang yang merokok sembarangan. “Apalagi kalau musim kemarau. Buang putung rokok sembarangan dapat menyebabkan kebakaran. Berarti bisa lebih berbahaya lagi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim Sri Adiningsih menyampaikan, guna menekan angka perokok sebenarnya bisa dimulai dari keluarga. Dalam hal ini tentu ada peran penting dari para orang tua.

Baca Juga:  DPN Komunitas Banteng Asli Nusantara rencanakan Kongres perdana di Ibu Kota Baru, hormati Sang Proklamator

“Para orang tua harus menjadi contoh bagi anaknya soal mengurangi rokok. Selain itu, orang tua juga dapat menjadi pengawas aktivitas anak di sekolah,” paparnya.

Menurut Sri, adanya minat para pemuda menjadi perokok karena sampai saat ini banyak sekolah di Surabaya yang lokasinya dekat warung yang biasa menjual rokok.

Untuk itu, dia berharap ada langkah kongkret dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya selama Raperda KTR masih dibahas.

“Kalau Perda KTR nggak segera digedok, kami akan temui Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Karena kami mendukung program untuk menyehatkan warga Surabaya,” tukas Sri.@wan