Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Slamet Ma’arif, Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 ditetapkan sebagai tersangka pelanggaran Pemilu. Tim advokasi langsung mengancam akan melaporkan 3 perwira polisi ke Propam Mabes Polri karena menganggap hal itu cacat formal maupun material.

Hal itu disampaikan Ketua Tim Advokasi Reaksi Cepat (TARC), M Taufiq. “Menurut hemat kami, kasus yang terjadi pada KH Slamet Ma’arif penuh tekanan dan penuh kepentingan. Dan juga terjadi cacat formal maupun material. Dalam waktu dekat kami akan melaporkan ke Kabid Propam Mabes Polri. Ada tiga perwira yang akan kami laporkan, tapi tidak akan saya sebut namanya di sini,”” katanya dalam jumpa pers di Solo, Senin (11/2/2019).

Menurutnya, Bawaslu harus lebih dulu menetapkan terlapor bersalah atau tidak. Namun dalam kasus ini, justru polisi yang menetapkan bersalah. Taufiq menganggap keputusan polisi itu tergesa-gesa. “Kasus Pemilu ini adalah lex specialis jadi hukum acaranya diberi waktu 14 hari, jatuhnya adalah hari Jumat. Oleh karena itu mereka cepat-cepat menetapkan tersangka,” sambungnya.

Pihaknya juga mencurigai polisi akan langsung menahan Slamet Ma’arif dalam pemeriksaan di Mapolda Jateng nanti. “Saya punya indikasi beliau akan ditahan, walaupun harusnya ini normalnya cuma 2 tahun ancaman hukumannya. Sementara yang bisa ditahan itu yang ancaman hukumannya 5 tahun,” paparnya.

Berdasar pertimbangannya, Taufiq juga menuding ada ketidakadilan dalam proses hukum kasus ini dan mengimbau polisi untuk netral dengan tidak berpihak kepada salah satu kubu pasangan calon presiden. “Kasus-kasus kubu sebelah sudah di-SP3 padahal baru penyelidikan. Padahal SP3 baru bisa dilakukan setelah penyidikan. Nah, giliran kubu kami langsung dijadikan tersangka,” pungkasnya. @dc/LI-15