Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Polrestabes Surabaya melepas Saruji (53), tersangka pencabulan terhadap anak berkebutuhan khusus. Kakek yang mengaku mencabuli korban hingga 5 kali dengan dalih suka sama suka ini hanya dikenai wajib lapor.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni, tak membantah hal ini. Menurutnya, hal itu ada dalam aturan KUHAP. “Pertimbangan tak ditahannya tersangka, karena kami punya pengalaman dimana masa penahanan 60 hari sudah habis sementara Jaksa meminta berkas pelimpahan dilengkapi, namun belum bisa dipenuhui penyidik, maka tersangka akan bebas murni,” jelasnya kepada Lensa Indonesia melalui telepon, Senin (11/2/2019) sore WIB.

Namun AKP Ruth Yeni menegaskan bahwa meskipun tersangka tak ditahan, namun proses hukum terus berlanjut. “Tersangka bukannya dilepas, hanya tidak ditahan dan proses hukumnya terus berlanjut,” tambahnya.

Sementara keluarga korban yang mengadu ke Lensa Indonesia terkait masalah ini mengaku sangat kecewa dengan sikap polisi yang tak melakukan penahanan terhadap Saruji. Mereka menduga ada uang jaminan puluhan juta sehingga tersangka bisa menghirup udara bebas setelah ditangkap dan kasusnya dirilis ke media massa.

Ayah tiri korban, Slamet Hariyanto, warga Jl Girilaya IV, menganggap tindakan polisi ini tidak memberikan efek jera kepada pelaku. “Tersangka ini berkali-kali mencabuli anak saya. Bahkan dia mengaku melakukan karena anak saya suka sama dia. Ini saja sudah menunjukkan dia tak menyesali perbuatannya. Kok tega polisi melepas Saruji? Apa gak khawatir nanti ada korban lain? Dan yang pasti, pengakuan tersangka kalau kasus ini suka sama suka itu tak masuk akal. Karena anak saya ini berkebutuhan khusus sehingga sering tak sadar mana yang salah dan benar. Enak saja ngaku suka sama suka,” ujarnya didampingi paman korban, As’ad.

Slamet juga mengaku akan terus mencari keadilan agar tersangka kembali ditahan setelah sempat ditangkap dan ditahan pada akhir bulan Januari lalu. “Korban ini anak berkebutuhan khusus. Umurnya memang 19 tahun, tapi dia sekolah di sebuah SMP Negeri di Surabaya melalui jalur inklusi. Anak saya ini juga barusan ditinggal ibunya yang meninggal. Mbok yoo polisi itu kasihan dengan nasibnya, lhaa ini kok malah melepas tersangka yang mencabulinya. Kasihan mental anak saya kalau suatu saat ketemu pelaku di jalan.. Pasti dia masih trauma,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Saruji (53) mengaku berkali-kali mencabuli anak tetangganya, sebut saja Bunga, seorang anak berkebutuhan khusus. Dirinya mengaku tak memberikan iming-iming maupun memaksa korbannya, lantaran berdalih korban menyukainya. “Dia ada senang ke saya, dia mau,” katanya dalam jumpa pers di Polrestabes Surabaya, Senin (28/1/2019).

Dalam sebulan, Saruji mengaku lima kali mencabuli anak tetangga kosnya itu di kamar mandi saat tersangka mengangkat air untuk keperluan mandi. Dia kemudian ditangkap dan ditahan setelah keluarga korban melaporkan kasus ini ke Unit PPA Polrestabes Surabaya. @rofik/LI-15