Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) merespon keras sikap Unit PPA Polrestabes Surabaya yang memilih tidak menahan Saruji (53) tersangka pencabulan terhadap anak berkebutuhan khusus.

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait saat dihubungi melalui ponselnya mengatakan, bahwa kasus tersebut merupakan tindak pidana luar biasa yang dilakukan secara disengaja. “Ini perbuatan keji dan tidak bisa diterima dengan akal sehat. Dimana tersangka sudah mengakui perbuatannya berulang kali, dan ini perbuatan tindak pidana luar biasa,” terang Arist Merdeka Sirait, kepada Lensa Indonesia, Selasa (12/2/2019).

Pengakuan tersangka yang melakukan perbuatan dengan dalih suka sama suka, menurutnya tidak bisa dijadikan alasan pembenaran. “Ini korbannya anak berkebutuhan khusus, dari mana tersangka menyatakan suka sama suka. Dan pengakuan tersangka tidak berlaku, sekali lagi saya katakan ini kejahatan luar biasa,” tegasnya.

Dirinya juga meminta Unit PPA Polrestabes Surabaya, segera menangkap lagi tersangka dan melakukan penahanan, tanpa dalih apapun. “Kami mengerti apa yang dimaksud penyidik, tapi jangan ada alasan takut masa penahanan habis dan tersangka bebas karena berkas belum lengkap,” paparnya lebih lanjut.

Arist Merdeka Sirait menuding alasan penyidik PPA Polrestabes Surabaya yang tidak menahan tersangka dengan dalih khawatir bisa bebas murni setelah masa penahanan habis, adalah hal yang sangat berlebihan. “Pengakuan tersangka sudah sangat jelas, korban juga merupakan anak berkebutuhan khusus. Tinggal penyidik mengumpulkan barang bukti tambahan seperti hasil visum,” pungkasnya.

Seperti diberitakan Lensa Indonesia sebelumnya, Polrestabes Surabaya melepas Saruji (53), tersangka pencabulan terhadap anak berkebutuhan khusus. Kakek yang mengaku mencabuli korban hingga 5 kali dengan dalih suka sama suka ini hanya dikenai wajib lapor.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni, tak membantah hal ini. Menurutnya, hal itu ada dalam aturan KUHAP. “Pertimbangan tak ditahannya tersangka, karena kami punya pengalaman dimana masa penahanan 60 hari sudah habis sementara Jaksa meminta berkas pelimpahan dilengkapi, namun belum bisa dipenuhui penyidik, maka tersangka akan bebas murni,” jelasnya kepada Lensa Indonesia melalui telepon, Senin (11/2/2019) sore WIB.

Namun AKP Ruth Yeni menegaskan bahwa meskipun tersangka tak ditahan, namun proses hukum terus berlanjut. “Tersangka bukannya dilepas, hanya tidak ditahan dan proses hukumnya terus berlanjut,” tambahnya.

Sementara keluarga korban yang mengadu ke Lensa Indonesia terkait masalah ini mengaku sangat kecewa dengan sikap polisi yang tak melakukan penahanan terhadap Saruji. Mereka menduga ada uang jaminan puluhan juta sehingga tersangka bisa menghirup udara bebas setelah ditangkap dan kasusnya dirilis ke media massa.

Ayah tiri korban, Slamet Hariyanto, warga Jl Girilaya IV, menganggap tindakan polisi ini tidak memberikan efek jera kepada pelaku yang sebelumnya sempat ditangkap dan ditahan pada akhir Januari lalu.

“Tersangka ini berkali-kali mencabuli anak saya. Kok tega polisi melepas Saruji? Apa gak khawatir nanti ada korban lain? Dan yang pasti, pengakuan tersangka kalau kasus ini suka sama suka itu tak masuk akal. Karena anak saya ini berkebutuhan khusus sehingga sering tak sadar mana yang salah dan benar. Enak saja ngaku suka sama suka. Kasihan mental anak saya kalau suatu saat ketemu pelaku di jalan… Pasti dia masih trauma,” ujarnya didampingi paman korban, As’ad.

“Umurnya memang 19 tahun, tapi dia sekolah di sebuah SMP Negeri di Surabaya melalui jalur inklusi. Anak saya ini juga barusan ditinggal ibunya yang meninggal. Mbok yoo polisi itu kasihan dengan nasibnya, lhaa ini kok malah melepas tersangka yang mencabulinya,” pungkasnya. @rofik/LI-15