Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
DPRD sesalkan pelaku cabul terhadap anak yatim tak ditahan Polrestabes Surabaya
Anggota DPRD Surabaya sesalkan sikap polisi yang tak menahan tersangka pencabulan terhadap anak yatim (iwan)
HEADLINE

DPRD sesalkan pelaku cabul terhadap anak yatim tak ditahan Polrestabes Surabaya 

LENSAINDONESIA.COM: Anggota DPRD Surabaya, Vinsensius Awey, menyoroti keputusan Unit PPA Polrestabes Surabaya tidak menahan tersangka pencabulan remaja berkebutuhan khusus. Tersangka Saruji (53) hanya dikenai wajib lapor meskipun sudah mengakui perbuatanya sebanyak lima kali.

“Jika memang sudah mengakui dan melakukan berulang-ulang harus diperiksa kejiwaanya. Masih ada potensi kejadian serupa terulang jika dilepas,” kata Vinsensius kepada Lensa Indonesia, Rabu (13/02/2018).

Awey juga mempertanyakan pengakuan suka sama suka yang dikatakan tersangka saat melakukan perbuatanya. Menurutnya, jika korban merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) secara mental, maka pemahaman suka sama suka akan berbeda dengan orang normal. Karena itu, menurutnya dalih suka sama suka tidak bisa dijadikan alasan pembenar atas perbuatan bejat yang dilakukan pelaku.

“Kalau berkebutuhan khusus secara mental, maka konsep suka sama suka akan berbeda dengan orang normal. Artinya dalih ini tidak bisa dijadikan alasan pembenar dalam kondisi apapun,” tegas politisi Nasdem yang dikenal kritis ini.

Karena itu, sebagai wakil rakyat pihaknya berharap penegak hukum harus berlaku adil kepada setiap warga negara. Menurutnya, pelaku seharusnya tidak dilepaskan karena sudah mengakui perbuatanya berulang-ulang.

“Kepolisian harus menjalankan tugas secara profesional. Korban masih memerlukan perlindungan hukum. Jika pelaku dilepas maka tidak ada efek jera kepada pelaku dan saya khawatir terjadi peristiwa yang tidak diinginkan,” pungkas politisi sekaligus Caleg DPR RI Dapil Surabaya-Sidoarjo ini.

Seperti diberitakan Lensa Indonesia sebelumnya, Polrestabes Surabaya melepas Saruji (53), tersangka pencabulan terhadap anak berkebutuhan khusus. Kakek yang mengaku mencabuli korban hingga 5 kali dengan dalih suka sama suka ini hanya dikenai wajib lapor.
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni, tak membantah hal ini. Menurutnya, hal itu ada dalam aturan KUHAP.

“Pertimbangan tak ditahannya tersangka, karena kami punya pengalaman dimana masa penahanan 60 hari sudah habis sementara Jaksa meminta berkas pelimpahan dilengkapi, namun belum bisa dipenuhui penyidik, maka tersangka akan bebas murni,” jelasnya kepada Lensa Indonesia melalui telepon, Senin (11/2/2019) sore WIB.

Namun AKP Ruth Yeni menegaskan bahwa meskipun tersangka tak ditahan, namun proses hukum terus berlanjut. “Tersangka bukannya dilepas, hanya tidak ditahan dan proses hukumnya terus berlanjut,” tambahnya.

Sementara keluarga korban yang mengadu ke Lensa Indonesia terkait masalah ini mengaku sangat kecewa dengan sikap polisi yang tak melakukan penahanan terhadap Saruji. Mereka menduga ada uang jaminan puluhan juta sehingga tersangka bisa menghirup udara bebas setelah ditangkap dan kasusnya dirilis ke media massa.

Ayah tiri korban, Slamet Hariyanto, warga Jl Girilaya IV, menganggap tindakan polisi ini tidak memberikan efek jera kepada pelaku yang sebelumnya sempat ditangkap dan ditahan pada akhir Januari lalu.

“Tersangka ini berkali-kali mencabuli anak saya. Kok tega polisi melepas Saruji? Apa gak khawatir nanti ada korban lain? Dan yang pasti, pengakuan tersangka kalau kasus ini suka sama suka itu tak masuk akal. Karena anak saya ini berkebutuhan khusus sehingga sering tak sadar mana yang salah dan benar. Enak saja ngaku suka sama suka. Kasihan mental anak saya kalau suatu saat ketemu pelaku di jalan… Pasti dia masih trauma,” ujarnya didampingi paman korban, As’ad.

“Umurnya memang 19 tahun, tapi dia sekolah di sebuah SMP Negeri di Surabaya melalui jalur inklusi. Anak saya ini juga barusan ditinggal ibunya yang meninggal. Mbok yoo polisi itu kasihan dengan nasibnya, lhaa ini kok malah melepas tersangka yang mencabulinya,” pungkasnya.@wan