Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy atau Romi menilai bahwa puisi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon berjudul ‘Doa yang Tertukar’ menghina Kyai Haji Maimun Zubair.

Romi mengatakan, Maimun Zubair atau Mbah Moen merupakan ulama paling sepuh yang paling dihormati.

“Puisi tersebut dinilai menghina ulama mbah Moen jelas melukai para santri, di mana sosok Mbah Moen merupakan ulama paling sepuh dan paling dihormati. Ditambah beliau Mustasar PBNU,” ujarnya saat ditemui usai mengisi seminar Kebangsaan di Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo, Kamis (14/02/2019).

Romi menyampaikan, dirinya menyerahkan kepada msyarakat untuk menilai sikap Fadli Zon yang sampai saat ini menolak meminta maaf kepada Ketua Majlis Syariah PPP itu.

Bagi Romi, sikap menolak meminta maaf tersebut merupakan cerminan kualitas Fadli Zon sebagai wakil rakyat.

“Dengan penolakan permohonan maaf kepada Mbah Moen, mencerminkan kualitas dia di dalam menjawab ketersinggungan publik,” ujarnya.

Ia pun tidak mengambil pusing persoalan Fadli Zon yang tidak mau meminta maaf kepada Mbah Moen serta warga NU. Menurut Romahurmuzi banyak hal yang perlu dipikirkan ketimbang puisi Fadli Zon.

“Sak karepmu lah Fadli Zon, masih banyak urusan lain yang lebih penting dibanding ngurusin Fadli zon,” ucapnya.

Sementara itu, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, menilai apa yang dilakukan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon dengan puisinya, Doa yang Ditukar, sebagai bentuk pelanggaran etika.

Dalam acara Suluh Kebangsaan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Mahfud menilai sulit membawa persoalan puisi Fadli ke ranah hukum pidana. Ia melihat ini sebagai pelanggaran etika.

Dalam kasus ini, menurut Mahfud MD publik bisa menghukum Fadli dengan tidak memilihnya di Pileg 2019.@LI-13