LENSAINDONESIA.COM: Beredar video di media sosial (medsos) aksi seorang warga mengenakan baju hijau menganiaya dan mempersekusi petugas Satpol PP yang juga Staf Kelurahan Krembangan Utara di Surabaya. Berdasarkan informasi yang didapat, warga tersebut protes karena keberatan alat peraga kampanye (APK) calon legislatif (Caleg) dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Buchori Imron yang didukungnya dicopot petugas.

Ketika dikonfirmasi Lensa Indonesia, Buchori Imron membenarkan bahwa warga yang protes tersebut adalah pendukungnya. “Iya mas atribut yang dicopot itu punya saya. Tepatnya bukan hanya saya tapi PPP juga,” jawabnya, Jumat (15/2/2019) sore.

Ketika ditanya terkait tindakan yang dilakukan pendukungnya kepada petugas, politisi yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya ini menyebutkan itu dilakukan sebagai bentuk protes. Pihaknya juga mengaku keberatan jika APK miliknya dicopot karena baru dipasang kemarin sore dan langsung dicopot hari ini. Apalagi menurutnya, hanya APK miliknya yang dicopot petugas.

“Jadi begini, kalau tidak salah ada beberapa spanduk yang baru dipasang kemarin sore, ternyata hari ini langsung dicopot. Padahal ada alat peraga kampanye partai lain, kenapa hanya punya PPP yang dicopot,” kata Buchori yang juga menjabat Ketua DPC PPP Surabaya ini.

Terkait tindakan pendukungnya, Buchori mengaku tidak mengetahui secara pasti karena tidak berada di lokasi. Namun pihaknya berharap semua pihak menjadikan peristiwa ini sebagai konsumsi politik sehingga tidak menyelesaikan masalah. “Mungkin ya merasa spanduk yang dipasang dicopot sehingga protes kepada petugas. Kemungkinan bukan hanya dicopot tapi dirobek, buktinya ketika diminta lagi sudah tidak ada barangnya. Selama ini memang warga yang meminta APK selalu kami kasih karena sudah masuk masa kampanye. Terkait lokasinya saya hanya menghimbau dipasang sesuai aturan,” sambungnya.

Lebih jauh, Buchori mengatakan permasalahan ini sudah diselesaikan di kantor Kelurahan Krembangan Utara dan ditengahi tokoh setempat. Namun, ternyata kejadian ini kemudian viral di medsos dan mendapat banyak tanggapan dari berbagai pihak. “Saya berharap semua pihak termasuk petugas menjaga agar pelaksanaan kampanye berjalan baik. Jangan melakukan tindakan yang berpotensi menimbulkan percikan-percikan dan gesekan di masyarakat,” katanya.

Buchori juga menyesalkan, mestinya penertiban APK harus disertai rekomendasi Panwaslu dan bersama-sama menertibkan atribut yang dianggap melanggar. “Tidak begitu kalau menertibkan seharusnya. Petugas jangan asal copot dan merusak atribut kampanye. Sebagai petugas tidak begini caranya,” tegasnya.

Seperti diberitakan Lensaindonesia, sebuah video mendadak viral di Surabaya hari ini, Jumat (15/2/2019). Dalam video itu, seseorang yang mengaku tim sukses salah satu Caleg nampak menampar dan beberapa kali melakukan tindak kekerasan terhadap Rianda Harendino (44), salah satu staf Kelurahan Krembangan Utara.

Lensa Indonesia yang mencari informasi tentang kronologis serta lokasi kejadian mendapat kabar bahwa peristiwa ini terjadi pada Rabu (13/2/2019). Kejadian dipicu saat Rianda melihat yang melakukan monitoring di wilayah Jl Kebalen Wetan, melihat APK (Alat Peraga Kampanye) salah satu Caleg DPRD Surabaya dalam Pemilu 2019, yang terlepas pengaitnya sehingga mengganggu pengguna jalan.

Bersama Satpol PP Kelurahan Krembangan Utara, Rianda lalu melepas spanduk tersebut agar tidak mengganggu pengguna jalan dan menyebabkan korban. Selanjutnya dia balik ke kantor.

Namun sesampainya di Kelurahan, ternyata sudah ada Ahmad Damuji, warga Jl Kebalen Wetan VI/6, sekaligus Ketua RT 006/RW 007 Kelurahan Krembangan Utara. Datang dengan hanya mengenakan kaos hijau dan sarung, tanpa alas kaki, Ahmad Damuji mendamprat habis-habisan Riandra. Tak hanya itu, dia juga beberapa kali menampar staf kelurahan tersebut tanpa mau mendengar alasan maupun penjelasan dari korban.

Rianda Harendino akhirya akhirnya resmi melaporkan kasus ini ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Jumat (15/2/2019).

Dalam uraian singkat kejadian tentang kasus sesuai Nomor LP: STPL/044/II/2019/Jatim/ Res Pel Tg Perak, Rianda menjelaskan peristiwa bermula saat dirinya melakukan monitoring APK (Alat Peraga Kampanye) di wilayahnya, Rabu (13/2/2019). Saat melintas di Jl Kebalen Wetan, dirinya melihat salah satu APK berupa spanduk salah satu caleg DPRD Surabaya yang alat pengaitnya terputus sehingga tergantung di tengah jalan.

Khawatir bisa mengganggu pengguna jalan dan menyebabkan korban, Rianda dibantu Satpol PP Kelurahah Krembangan Utara melepas spanduk itu dan membawanya ke kantor.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto saat dikonfirmas membenarkan telah menerima laporan kasus ini. Menurutnya, pihaknya akan segera menindaklanjuti laporan dengan memeriksa terlapor, saksi-saksi dan sekaligus memanggil pelaku. “Kami akan selalu profesional menjalankan tugas. Siapapun pelapor dan terlapornya pasti akan ada proses hukum yang berlanjut,” tegasnya.

Terkait adanya nama salah satu Caleg yang terkait kasus ini, pihaknya meminta tak ada pihak yang buru-buru membuat kesimpulan. “Kami belum bisa beri banyak komentar ya. Jadi akan kami periksa dulu keterangan pihak-pihak yang terkait. Saya tegaskan lagi, semua laporan yang masuk pasti kami proses,” pungkasnya. @wan