Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Pengamat Hukum dari Universitas Airlangga (Unair), I Wayan Titib Sulaksana, ikut mengecam keras tindakan petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya yang terkesan meremehkan kasus pencabulan terhadap anak berkebutuhan khusus. Sebelumnya, kecaman juga datang dari Komnas Perlindungan Anak dan DPRD Surabaya.

Kecaman datang setelah PPA Polrestabes Surabaya melepas Saruji (53), tersangka pencabulan terhadap anak yatim berkebutuhan khusus. Padahal pelaku dengan enteng mengaku mencabuli korban hingga 5 kali, namun petugas memilih tak melakukan penahanan dan hanya mengenakan wajib lapor. “Saya sangat mengecam keras hal itu. Dimana kehadiran negara untuk melindungi hak anak yang jadi korban ini,” cetus Wayan Titib kepada Lensa Indonesia, Kamis (14/2/2019).

Wayan mempertanyakan apa alasan polisi melepas begitu saja ‘predator’ tersebut. Pengamat hukum yang vokal ini juga menilai tingkat bahayanya sangat tinggi ketika pelaku pencabulan tak diberikan efek jera. “Kok bisa aparat penegak hukum seperti itu. Dimana rasa kemanusiannya? Apa hanya karena tersangka menjaminkan diri tidak bakal melarikan diri? Apa jaminannya? Siapa yang menjamin? Ini sangat tidak pas,” katanya.

Pihaknya meminta agar polisi tegas dan punya rasa kemanusiaan yang tinggi terhadap masyarakat, khususnya yang menjadi korban. Dan yang pasti, tidak mempermainkan kasus-kasus hukum. “Semua orang, siapapun itu statusnya di depan hukum adalah sama. Entah itu pejabat, pengusaha, orang berduit atau rakyat biasa semua sama,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Wayan mendesak agar kasus ini menjadi perhatian bagi jajaran pimpinan Polrestabes Surabaya. “Aparat penegak hukum harus benar-benar menegakkan hukum. Apalagi korban adalah anak yatim dan berkebutuhan khusus. Ini harus ditindak sekeras-kerasnya. Kasihan anak ini kalau negara tidak hadir melindungi dia,” tandasnya.

Seperti diberitakan Lensa Indonesia sebelumnya, Polrestabes Surabaya melepas Saruji (53), tersangka pencabulan terhadap anak berkebutuhan khusus. Kakek yang mengaku mencabuli korban hingga 5 kali dengan dalih suka sama suka ini hanya dikenai wajib lapor.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni, tak membantah hal ini. Menurutnya, hal itu ada dalam aturan KUHAP. “Pertimbangan tak ditahannya tersangka, karena kami punya pengalaman dimana masa penahanan 60 hari sudah habis sementara Jaksa meminta berkas pelimpahan dilengkapi, namun belum bisa dipenuhui penyidik, maka tersangka akan bebas murni,” jelasnya kepada Lensa Indonesia melalui telepon, Senin (11/2/2019) lalu.

Namun AKP Ruth Yeni menegaskan bahwa meskipun tersangka tak ditahan, namun proses hukum terus berlanjut. “Tersangka bukannya dilepas, hanya tidak ditahan dan proses hukumnya terus berlanjut,” tambahnya.

Sementara keluarga korban yang mengadu ke Lensa Indonesia terkait masalah ini mengaku sangat kecewa dengan sikap polisi yang tak melakukan penahanan terhadap Saruji. Mereka menduga ada uang jaminan puluhan juta sehingga tersangka bisa menghirup udara bebas setelah ditangkap dan kasusnya dirilis ke media massa.

Ayah tiri korban, Slamet Hariyanto, warga Jl Girilaya IV, menganggap tindakan polisi ini tidak memberikan efek jera kepada pelaku yang sebelumnya sempat ditangkap dan ditahan pada akhir Januari lalu.

“Tersangka ini berkali-kali mencabuli anak saya. Kok tega polisi melepas Saruji? Apa gak khawatir nanti ada korban lain? Dan yang pasti, pengakuan tersangka kalau kasus ini suka sama suka itu tak masuk akal. Karena anak saya ini berkebutuhan khusus sehingga sering tak sadar mana yang salah dan benar. Enak saja ngaku suka sama suka. Kasihan mental anak saya kalau suatu saat ketemu pelaku di jalan… Pasti dia masih trauma,” ujarnya didampingi paman korban, As’ad.

“Umurnya memang 19 tahun, tapi dia sekolah di sebuah SMP Negeri di Surabaya melalui jalur inklusi. Anak saya ini juga barusan ditinggal ibunya yang meninggal. Mbok yoo polisi itu kasihan dengan nasibnya, lhaa ini kok malah melepas tersangka yang mencabulinya,” pungkasnya. @sarifa