Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Lembaga Perlindungan Anak ikutan kecam PPA Polrestabes Surabaya
Sekretaris LPA Jatim, Isa Ansori
HEADLINE

Lembaga Perlindungan Anak ikutan kecam PPA Polrestabes Surabaya 

LENSAINDONESIA.COM: Setelah Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), anggota DPRD Surabaya dan pengamat hukum Universitas Airlangga (Unair) ramai-ramai mengecam, kini giliran Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim ikutan memprotes keras keputusan Polrestabes Surabaya tak menahan tersangka kasus pencabulan terhadap anak yatim berkebutuhan khusus. Pelaku pencabulan yang sudah menjadi tersangka, Saruji (53) saat ini tidak ditahan dan hanya dikenai wajib lapor meskipun proses hukum masih berjalan.

Sekretaris LPA Jatim, M Isa Ansori menegaskan, tindakan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya itu melukai rasa keadilan korban dan keluarganya. “Padahal kalau melihat ancamannya berdasarkan UUPA, hukumannya di atas 5 tahun penjara. Sehingga tidak ditahannya pelaku menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat,” tegasnya kepada Lensa Indonesia, kemarin malam.

Isa Ansori mengatakan dari sudut hukum kekerasan kepada anak, keputusan Unit PPA Polrestabes Surabaya ini patut dipertanyakan. Dia kembali menegaskan, pelaku kekerasan terhadap anak dengan ancaman diatas 5 tahun harusnya dipenjarakan.

“Saya mendesak Polrestabes Surabaya untuk bersikap proporsional berdasarkan rasa keadilan dan undang undang yang ada dengan melaksanakan aturan bahwa pelaku yang ancamannya diatas 5 tahun harus dipenjarakan,” tandasnya.

Pria yang juga aktif sebagai Dewan Pendidikan Jatim ini menyebutkan ada potensi kejadian terulang karena pelaku sudah melakukan kegiatan bejatnya sebanyak lima kali. Apalagi, jika tersangka berstatus tidak dipenjara, maka keamanan dan keselamatan korban harus menjadi perhatian karena proses hukum masih berjalan. “Jika sudah mengaku melakukan perbuatan berkali-kali kan berpotensi terulang. Apalagi pelaku sudah mengidentifikasi korban sebagai relasi yang lemah. sehingga dikhawatiran kejadian serupa akan terulang,” imbuhnya.

Karena itu menurut Isa, sesuai sudut pandang hukum peristiwa kekerasan terhadap anak terdapat dua langkah yang bisa dilakukan diantaranya tindakan dan pencegahan. “Nah, melepas tersangka yang sudah mengaku berulang kali melakukan perbuatanya bertentangan dengan asas pencegahan,” pungkasnya.

Baca Juga:  Anugrah Ariyadi resmi daftar Bacawawali Surabaya lewat PDIP

Seperti diberitakan Lensa Indonesia sebelumnya, Polrestabes Surabaya melepas Saruji (53), tersangka pencabulan terhadap anak yatim berkebutuhan khusus. Kakek yang mengaku mencabuli korban hingga 5 kali dengan dalih suka sama suka ini hanya dikenai wajib lapor.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni, tak membantah hal ini. Menurutnya, hal itu ada dalam aturan KUHAP. “Pertimbangan tak ditahannya tersangka, karena kami punya pengalaman dimana masa penahanan 60 hari sudah habis sementara Jaksa meminta berkas pelimpahan dilengkapi, namun belum bisa dipenuhui penyidik, maka tersangka akan bebas murni,” jelasnya kepada Lensa Indonesia melalui telepon, Senin (11/2/2019) sore WIB.

Namun AKP Ruth Yeni menegaskan bahwa meskipun tersangka tak ditahan, namun proses hukum terus berlanjut. “Tersangka bukannya dilepas, hanya tidak ditahan dan proses hukumnya terus berlanjut,” tambahnya.

Sementara keluarga korban yang mengadu ke Lensa Indonesia terkait masalah ini mengaku sangat kecewa dengan sikap polisi yang tak melakukan penahanan terhadap Saruji. Mereka menduga ada uang jaminan puluhan juta sehingga tersangka bisa menghirup udara bebas setelah ditangkap dan kasusnya dirilis ke media massa.

Ayah tiri korban, Slamet Hariyanto, warga Jl Girilaya IV, menganggap tindakan polisi ini tidak memberikan efek jera kepada pelaku yang sebelumnya sempat ditangkap dan ditahan pada akhir Januari lalu.

“Tersangka ini berkali-kali mencabuli anak saya. Kok tega polisi melepas Saruji? Apa gak khawatir nanti ada korban lain? Dan yang pasti, pengakuan tersangka kalau kasus ini suka sama suka itu tak masuk akal. Karena anak saya ini berkebutuhan khusus sehingga sering tak sadar mana yang salah dan benar. Enak saja ngaku suka sama suka. Kasihan mental anak saya kalau suatu saat ketemu pelaku di jalan… Pasti dia masih trauma,” ujarnya didampingi paman korban, As’ad.

Baca Juga:  Buron curanmor ditangkap saat antri BBM di SPBU Jl Kenjeran

“Umurnya memang 19 tahun, tapi dia sekolah di sebuah SMP Negeri di Surabaya melalui jalur inklusi. Anak saya ini juga barusan ditinggal ibunya yang meninggal. Mbok yoo polisi itu kasihan dengan nasibnya, lhaa ini kok malah melepas tersangka yang mencabulinya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait sudah merespon keras kasus ini. Tak lama kemudian, anggota DPRD Surabaya Vinsensius Awey juga mendesak polisi agar segera menahan lagi tersangka Suraji yang terang-terangan mengakui 5 kali mencabuli korban. Disusul, protes keras dari pengamat hukum asal Unair, I Wayan Titib Sulaksana yang mempertanyakan sikap PPA Polrestabes Surabaya yang memilih tak menahan tersangka dengan dalih khawatir tak bisa menyelesaikan berkas tepat waktu. @wan