Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Peneliti 7SS: Debat Capres Jokowi naikkan elektabilitas, Prabowo sulit
HEADLINE

Peneliti 7SS: Debat Capres Jokowi naikkan elektabilitas, Prabowo sulit 

LENSAINDONESIA.COM: Peneliti 7 (Seven) Strategic Studies (7SS), Girindra Sandino menyampaikan catatan kritis tentang Debat Capres ke 2 antara Jokowi dan Prabowo, yang berlangsung di Jakarta. Menurutnya, nyaris masih tidak berbeda dengan cara kampanye berbulan-bulan yang dilakukan banyak Caleg peserta Pemilu 2019, baik di Jakarta maupun daerah, seperti pasang baliho.

“Hasil kampanye itu bermuara pada kesimpulan publik tentang tidak adanya tawaran agenda. Setidak-tidaknya slogan aksentuatif yang memberi harapan, kecuali permohonan doa restu dan permintaan untuk dipilih. Kalau pun ada, hanya kata atau kalimat pengulangan harapan-harapan bias,” demikian kesimpulan Peneliti 7SS, yang disampaikan kepada LensaIndonesia.com, Minggu malam (17/2/2019).

Girindra Sadino menyampaikan kritikannya itu merujuk pandangan Mehran Kamrava dalam bukunya “Understanding Comparative Politics: A Framework for Analysis” (2003), yang mengatakan,, political socialization is basically of attitude formation towards political objects, values, and processes (sosialisasi politik pada dasarnya adalah proses dari bentuk tingkah laku kepada objek politik, nilai-nilai dan prosesnya).

Walau begitu, Peneliti 7SS menyampaikan beberapa poin cacatan terhadap Debat Capres Jokowi dan Prabowo, berikut ini;

Pertama, Capres Prabowo lebih banyak melempar retorika-retorika yang terus mengulang dan membosankan serta sangat sloganistik. Melemparkan wacana bernuansa “kelas” dan pendekatan “kerakyatan”, namun kontras dengan citra diri dan rekam jejaknya, apalagi bukti-bukti.

Sementara itu, Capres Jokowi menyampaikan fakta dan bukti yang sudah dikerjakan, walaupun sebagian masih ada yang dalam proses. Misalnya, pembangunan 900 ribu jalan desa, soal petani jagung, dan kedaulatan energi.

Soal reforma agraria, misal, Capres Jokowi selama pemerintahannya telah membagikan konsensi lahan kepada adat ulayat, petani, nelayan dan lain-lain. Dan di tahun 2017 memberikan 5 juta sertifikat lahan atau tanah, 2018 membagikan 7 juta sertifikat yang tentu berguna untuk agunan, jaminan, dan melakukan pendampingan warga tersebut.

Baca Juga:  Polisi amankan 35 motor tanpa surat di Suramadu

Kedua, ada yang menarik dari Debat Capres ini, yaitu adanya sensitivitas retoris, dampak dari dalam perdebatan, harus ada kesiapan mental untuk dikritik oleh capres lain. Ada saling kritik antara kedua Capres. Hal ini merupakan kemajuan dari penyelenggaraan debat, karena masyarakat bisa menilai spontanitas intelektual dan cara berfikir sistematik yang cepat.

“Oleh karena itu, denga paparan di atas, saya berkeyakinan elektabilitas Capres Jokowi akan naik, sementara Capres Prabowo agak sulit merangkak naik, karena keyakinan pemilih telah mengkristal,” kata Girindra.

Ketiga, lanjut dia, “Semoga debat ke depan, tidak hanya berakhir dengan pernyataan dan rekomendasi sumir dan pesimisme yang keluar dari salah satu Capres, tidak keluar dengan konsepsi politik ke depan yang dapat ditawarkan kepada rakyat yang jelas kian cerdas secara politik.”

Keempat, Sosialisasi politik berbentuk ide dan gagasan strategis pada debat capres kedua ini setidaknya memberikan sesuatu yang menjadi nilai-nilai serta terserap oleh rakyat sebagai proses pencerdasan politik dalam kontestasi demokrasi Indonesia.

Kelima, penyelenggara Pemilu, dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU), sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, dan dapat meraih kembali kepercayaan publik sebagai basis legitimasi pemilu yang kuat dan berkualitas, karena debat jauh mengalami perbaikan. @licom-09
foto:
Capres Jokowi dan Capres Prabowo di area Debat Capres kedua. @dok.tirto