Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Unit Harda (harta benda) Satreskrim Polresta Sidoarjo mulai memproses kasus dugaan penipuan investasi hunian/rumah Perumahan Mustika Garden oleh developer PT Alisa Zola Sejahtera.

Saat ini puluhan korban dipersiksa sebagai saksi. Mereka dimintai keterangan seputar kronologis investasi hunian tersebut.

Kasus ini dilaporkan oleh para korban ke Polda Jatim pada Agustus 2018 lalu. Dari 28 orang korban, total kerugian dilaporkan mencapai Rp4 miliar. Kemudian oleh Polda Jatim proses penyelidikan dilimpahkan ke Polres Sidoarjo.

“Iya benar. Setelah dilimpahkan dari Polda Ke Polresta Sidoarjo, saat ini korban mulai dilakukan pemeriksaan,” ujar Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo Kompol Muhammad Harris, Rabu (20/02/2019).

Harris menyampaikan, saat ini pihaknya kumpulkan barang bukti dan keterangan korban. Karena korban banyak. “Kita sudah memanggil beberapa korban untuk dimintai keterangan dalam proses penyelidikan. Dan secepatnya akan dilakukan kenaikan status menjadi penyidikan,” terangnya.

Abdul Malik, kuasa hukum korban mengatakan pihak yang menjadi terlapor dalam kasus ini adalah Muhammad Fattah yang mengaku sebagai Direktur Utama PT Alisa Zola Sejahtera. Fattah diduga melakukan penipuan sejumlah uang investasi hunian tersebut.

“(Nilai kerugian) bervariasi. Mulai di bawah seratus juta hingga di atas seratus atau dua ratus juta yang sudah mereka bayar,” terangnya.

Dari jumlah 28 korban yang ditipu, total kerugian mencapai kisaran Rp4 miliar. Namun, pembangunan yang dijanjikan selesesai di 2017 lalu belum juga terealisasi.

Di sisi lain, sebagian besar korban penipuan investasi hunian rumah tersebut merupakan pasangan suami istri yang baru menikah. Angan-angan memiliki rumah setelah menikah menjadi harapan pahit bagi mereka.

Kata dia, awalnya perumahan milik developer PT Alisa Zola Sejahtera tersebut bernama Perumahan Mustika Garden, lalu kemudian berganti nama manjadi Grand Mutiara abadi.

Salah satu korban, Gani Setio asal Sedati Sidoarjo, menyebut dirinya sempat kesal lantaran hunian rumah yang dijanjikan belum ada perkembangan. Ia memilih mendatangi Mapolda Jatim dan melaporkan Muhammad Fattah yang mengaku sebagai Direktur Utama.

“Cicilan mulai 2015. Tapi sampai 2017 belum ada progres. Diuruk pun masih belum dilakukan. Jadi, kondisi tanah masih berupa sawah,” kata Gani.

Dari keterangannya ia sudah melakukan pembayaran baik kepada yang bersangkutan langsung hingga pembayaran melalui ATM atas nama Muhammad Fattah. Total kerugiannya mencapai Rp90 juta rupiah.

“Sudah DP Rp25 juta dan nyicil sampai dua tahun. Per bulan saya bayar Rp2,8 juta. Jadi, total kerugian saya mencapai kurang lebih Rp90 juta yang sudah dibayarkan,” pungkasnya.@rief