Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Dewan Penasehat Pemuda Demokrat Indonesia Jawa Timur, Budi Harjanto menilai penyataan Komandan Barisan Soekarno, Suko Sudarso yang menyebut Joko Widodo (Jokowi) kalah dalam dua kali Debat Capres 2019 dan tidak punya pamor lagi karena tidak punya visi-misi, strategi dan ideologi untuk membangun bangsa Indonesia, merupakan pernyataan yang ‘ngawur’ dan cenderung condong kepada calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Menurut Budi, sebagai orang yang dikenal sebagai tokoh GMNI, Suko Sudarso seharusnya menyampaikan, analisa yang fair dan tidak memutar balik fakta.

“Tayangan Debat Capres 2019 itu ditonton jutaan rakyat Indonesia, termasuk para kader-kader GMNI. Sebagai sesama alumni GMNI, saya merasa (maaf) malu mambaca pernyataan Suko Sudarso yang tidak netral dan tidak sesuai dengan fakta itu. Harusnya memberi analisa dan pernyataan yang tepat agar memberi pelajaran yang baik bagi kader-kader GMNI yang sekarang ini makin cerdas dan kritis,” tegas Budi kepada lensaindonesia.com di Surabaya, Jumat (22/02/2019).

Menurut Budi, dalam Debat Capres baik putaran pertama maupun kedua, Jokowi dan Prabowo sama-sama menunjukkan kekurangan dan kelebihannya. Dari kaca mata masyarakat awam, lanjut dia, pada debat kedua Prabawo dinilai kalah karena terlihat tidak mengusai materi dan ‘miskin’ data.

“Pada debat kedua, Prabowo enam kali mengapresiasi dan memuji capaian pemerintahan Jokowi. Dan semua orang yang menyaksikan debat itu pasti tahu bila Prabowo hanya bilang ‘akan-akan’ saja. Prabowo beberapakali mengatakan ‘akan menaikkan pendapatan petani’, ‘akan meningkatan kesejahteraan’ tetapi tidak sekalipun menyebutkan bangaimana cara atau solusi meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan kesejahteraan itu,” ujar Budi.

“Jadi, Suko Sudarso keliru bila menuding Jokowi tidak punya visi-misi. Mungkin lebih tepat penyataan Suko Sudarso itu ditujukan kepada Prabowo. Sebab, pernyataan ‘akan-akan’ saja tanpa solusi itu menunjukkan bila Prabowo sebagai capres tidak memiliki visi-misi yang jelas. Sebagai intelektual, harusnya Suko Sudarso tahu itu,” kritiknya.

Budi menyebut, sejak awal debat Jokowi memang memiliki kekurangan yang begitu tampak, yaitu cara bicaranya yang tidak lugas dan kurang cepat. Kekurangan Jokowi itu menjadi tampak jelas ketika lawan debatnya yaitu Prabowo, memiliki gaya bicara berapi-api.

Budi mengakui, memang orang yang kurang bisa berbicara lugas tampak kurang smart. Namun, kata dia, hal itu bukan ukuran kecerdasaan manusia. “Kurang bisa berbicara lugas bukan berarti tidak cerdas. Sebab banyak juga orang pandai ngomong ternyata tidak pandai berbuat,” jelasnya.

Ketua Dewan Penasihat PD XIII FKPPI Jatim ini pun mempertanyakan dasar Suko Sudarso menyebut Jokowi tidak pantas menjadi pemimpin nasional karena tidak kompeten dan membuat bangsa Indonesia terhina di Asia dan jauh menyimpang dari Trisakti dan konstitusi 1945 serta sangat memalukan.

Suko Sudarso juga mengatakan, Jokowi tidak kredibel, tidak ngerti masalah dan menjadi bagian dari masalah, dimana rakyat diperas untuk pembangunan, bukan pembangunan untuk rakyat, bukan pembangunan sosial/SDM, semua itu dikhawatirkan akan membawa kehancuran. Lalu Suko Sudarso menyatakan Prabowo yang pantas jadi pemimpin nasional karena visi-misi-ideologinya jelas dan kredibel, dengan kawalan dan kontrol civil society.

“Pertanyaan saya, rakyat mana yang diperas Jokowi?” singkat Budi. Justru, lanjutdia, dalam debat kedua pernyataan Prabowo tidak kompatibel dengan apa yang dilakukan. Contoh, ketika Prabowo mengkritik pembagian sertifikat, pembagian tanah kepada rakyat dan menyatakan akan meningkatkan pengahasilan petani namun faktanya, kata Budi, justru Prabowo menguasai ratusan ribu hektare tanah negara di Kaltim dan Aceh.”

“Soal ini (Prabowo mengusai ratusan ribu hektare lahan) bukan soal bermasalah atau tidak bermasalah lahan itu bisa dikuasi. Tetapi harusnya itu menjadi pembanding bahwa salah satu capres menunjukkan keberpihakan kepada rakyat dengan membagikan lahan dan sertifikat, sedangkan capres lainya (Prabowo) terbukti mengusai lahan yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mensejahterakan rakyat. Bila dinilai dari kualitas dalam debat, jujur saja, Jokowi kemarin (debat kedua) lebih mengusai. Dan dari situ kalau konteksnya siapa yang tepat menjadi presiden? Ya tentu Jokowi.”

“Lha ini Suko Sudarso malah menyebut Jokowi tidak mengerti masalah, tidak mengerti reformasi agraria dan pasal 33 UUD45, orientasinya hanya membangun di Indonesia, bukan membangun bangsa Indonesia. Ya tidak salah bila saya menyebut pendapat Suko Sudarso bersilat lidah. Lalu apa Suko Sudarso bisa membuktikan bahwa Jokowi telah memeras rakyat?” cetus Budi.

Menurut Budi, penyataan ‘melintir’ yang dilontarkan Suko Sudarso itu justru menunjukkan bila Suko Sudarso adalah figur yang tidak cerdas. “Pernyataannya tidak tepat, sehingga justru malah menunjukkan dirinya yang tidak cerdas dalam membuat analisa. GMNI itu pejuang pemikir, pemikir pejuang,” kritik Budi lagi.

Sebelumnya, dalam artikel berjudul “Suko Sudarso: Jokowi Sebenarnya Sudah Kalah. Prabowo yang Pantas jadi Pemimpin Nasional” yang dimuat di beberapa media pada Selasa, 19 Februari 2019, Suko Sudarso menyebut, dalam dua kali debat Pilpres, Jokowi sebenarnya sudah kalah dan tidak punya pamor lagi karena tidak punya visi-misi, strategi dan ideologi untuk membangun bangsa Indonesia.

Jokowi, kata dia, tidak mengerti masalah, tidak mengerti reformasi agraria dan pasal 33 UUD45, orientasinya hanya membangun di Indonesia, bukan membangun bangsa Indonesia.

Suko Sudarso juga menyebut, Jokowi tak kompeten, tidak kredibel, tidak ngerti masalah dan menjadi bagian dari masalah, dimana rakyat diperas untuk pembangunan, bukan pembangunan untuk rakyat, bukan pembangunan sosial/SDM.@LI-13