Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjawab tidungan Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangcan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang menyebut ada kejanggalan 17,5 juta data dalam daftar pemilih tetap (DPT).

BPN menyebut ada kesamaan tanggal lahir sejumlah pemilih dalam jumlah besar.

Kubu Prabowo merinci , pemilih yang lahir dan berumur 17 tahun pada 1 Juli tercatat 9,8 juta, pemiilih yang lahir pada 31 Desember sebanyak 3 juta pemilih, dan pemilih yang lahir pada 1 Januari sebanyak 2,3 juta pemilih.

BPN menilai angka itu tak wajar pasalnya jumlah pemilih yang lahir di tanggal lahir lain hanya berkisar sekitar 400-500 ribu.

Menjawab tudingan itu, Komisioner KPU, Viryan Azis mengatakan, tanggal lahir memang banyak yang sama.

“Data dengan tanggal lahir tersebut memang demikian adanya,” ujarnya di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Senin (11/03/2019).

Viryan menjelaskan, banyaknya data pemilih di tanggal lahir tertentu bisa saja disebabkan saat proses pencatatan administrasi kependudukan.

“Misalnya ada pemilih pada saat kegiatan pencatatan administrasi kependudukan, tidak ingat tanggal lahirny, hal-hal seperti itu kemudian disamakan tanggal lahirnya, ada yang tanggal 1 Juli, 31 Desember dan 1 Januari,” ujar Viryan.

Cara ini, kata Viryan, sudah pernah diterapkan sebelumnya, termasuk pada Pemilu 2014. Sementara itu, terkait data ganda, Viryan membenarkan saat ini masih ada 775 ribu data yang potensial ganda. Pembersihan data ganda terus dilalukan KPU.

“Data-data lain yang disampaikan oleh tim tadi tentunya perlu waktu untuk dikonfirmasi,” kata Viryan.

BPN sudah beberapa kali mempermasalahkan daftar pemilih KPU. Pada September 2018, BPN mengklaim menemukan 25 juta data ganda dalam daftar pemilih.

Namun setelah dilakukan pencermatan bersama, ternyata temuan itu tak terbukti. Hasil pencermatan menunjukan data ganda hanya sebanyak 6,3 juta, dan sudah ditindaklanjuti KPU hingga hanya tersisa sekitar 700 ribu potensi data ganda.@LI-13/mc