Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Ledakan diduga bom terjadi di Jalan Cendrawasih di depan masjid Al-Mukhlisin Kota Sibolga, Sumatera Utara, Selasa (12/03/2019).

Ledakan terjadi persis di Gang Sekuntum, Kelurahan Pancuran Bambu.

Kejadian ini tersebar luas di jejaring sosial Facebook yang dikirim oleh pemilik akun atas nama Devi.

Pemilik akun bernama Devi ini meng-upload video keramaian masyarakat yang panik karena ada ledakan di pemukiman padat penduduk.

Dalam caption video yang beredar di Facebook milik akun Devi ada menyatakan domilisi Sibolga dan ada caption “Yaallah teroris. Meledak kan bom”.

Terkait masalah ini, Kapolres Sibolga AKBP Edwin Hariandja saat dihubungi melalui selularnya tidak menjawab pertanyaan wartawan.

Berdasarkan informasi, ledakan terjadi sebanyak tujuh kali.

Namun, dari seberang telepon orang nomor satu di Polres Sibolga ini seakan menggambarkan situasi sedang berada di lokasi terjadi pemboman.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol M Iqbal membenarkan terjadinya ledakan tersebut. Menurut Iqbal, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui ledakan tersebut berasal dari bom atau bukan.

“Kita masih mendalami dan menyelidiki benda yang kami duga bom,” katanya dalam program Primetime News di Metro TV, Jakarta, Selasa malam.

Meski begitu, mantan Wakapolda Jatim ini mengungkapkan bahwa ledakan itu terjadi ketika tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror hendak menangkap AH, seorang terduga. Belum diketahui, apakah bom tersebut meledak melalui remot jarak jauh atau bukan.

“Apakah ini di remote dari dalam atau apa kami belum tahu. Saat penangkapan ada anak dan istri pelaku di dalam,” ungkapnya.

AH diduga masih satu jaringan dengan teroris berinisial PS. PS salah satu teroris asal Lampung yang lebih dulu diringkus pada Sabtu, 9 Maret 2019.

“Dia terduga jaringan PS di Lampung yang baru saja kami rilis kemarin,” kata Iqbal.

Penangkapan AH merupakan pengembangan atas kasus PS. AH ditangkap secara paksa lantaran dikhawatirkan akan melakukan tindakan radikal lainnya.

“Kita lakukan pengembangan lalu kami lakukan penangkapan paksa karena kami takut yang bersangkutan melakukan tindakan lain,” pungka dia.@LI-13