Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Divonis 9 bulan penjara terkait kasus penganiayaan, Kapten TNI AD Kodam V Brawijaya diduga belum dieksekusi
Kapten Cba Achmad Saiful oknum anggota TNI AD, menjalani sidang perdana kasus penganiayaan di Pengadilan Militer tingkat pertama, Surabaya, Senin (14/01/2019). FOTO: Rofik-licom
HEADLINE DEMOKRASI

Divonis 9 bulan penjara terkait kasus penganiayaan, Kapten TNI AD Kodam V Brawijaya diduga belum dieksekusi 

LENSAINDONESIA.COM: Mejelis Hakim Pengadilan Militer III-12 Surabaya menjatuhkan vonis 9 bulan penjara kepada Kapten Cba Achmad Saiful terdakwa kasus penganiayaan terhadap seorang perempuan bernama Lailia Fatmawati.

Dalam putusannya, Hakim Ketua Kolonel Laut Asep Ridwan Hasyim, SH, MSi, M.H menyatakan bahwa terdawa Kapten Cba Achmad Saiful terbukti bersalah melakukan tindak pidana.

“Menyatakan terdakwa tersebut diatas yaitu Achmad Saiful berpangkat Kapten Cba terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan. Memidana terdakwa pidana penjara selama 9 bulan,” katanya dalam amar putusan yang dibacakan pada sidang yang digelar pada Senin (18/03/2019).

Selain menjatuhkan vonis 9 bulan penjara, majelis hakim juga membebankan biaya perkara kepada terdakwa sejumlah Rp 15.000.

Meski vonis telah dijatuhkan, namun sampai saat ini terdakwa Achmad Saiful yang menjabat sebagai Kaurjasang Sijasa Bekangdam Kodam V/ Brawijaya tersebut belum diduga dieksekui atau dijebloskan ke penjara. Belum ditahannya Achmad Saiful ini disampaikan oleh Lailia Fatmawati.

“Sampai sekarang kabarnya belum dipenjara. Saya tidak tahu kapan (dieksekusi). Padahal sidangnya sudah putusan 18 Maret kemerin,” ungkap Laili kepada lensaindonesia.com, Senin (25/03/2019).

Perempuan yang mengaku sudah beberapa tahun menjalin kasih dengan Achmad Saiful ini berharap, semua pihak dalam hal ini terdakwa dan penegak hukum menjalankan apa yang diputuskan Pengadilan Militer III-12 Surabaya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus ini bermula dari adanya penganiayaan yang dilakukan anggota TNI AD Kapten Cba Achmad Saiful saat Lailia Fatmawati meminta mobil miliknya agar dikembalikan.

Lailia Fatmawati mengaku mengenal Achmad Saiful pada Mei 2014 dari media sosial, yang kemudian dilanjutkan bertemu di rumah makan foodcourt salah satu mall di Jl Embong Malang Surabaya.

“Dari media sosial, saya dikasih nomor ponselnya, dan membuat janji bertemu di foodcourt, Setelah itu kami berteman lebih dekat (pacaran),” ungkapnya.

Baca Juga:  Komunitas Surabaya Berbagi gelar baksos di Rusun Sumbo

Perempuan berumur 38 tahun ini juga mengaku baru tahu kalau Achmad Saiful anggota TNI setelah keduanya bertemu dan menjalin hubungan lebih dalam (pacaran), hungga memutuskan tinggal bersama.

“Januari 2017, kami kost di Jl Simo selama lima bulan, dan pindah ke Perum Gading Indah Benowo,” tambahnya sembari mengaku telah tinggal bersama dengan Achmad Saiful tanpa ikatan pernikahan.

Disinggung penganiayaan yang dilakukan. Acahmad Saiful, Lailia menyatakan, bahwa insiden itu terjadi saat dirinya meminta mobilnya yang dipakai Achamd Saiful. “Saat saya hubungi tidak dijawab, dan saya berniat mau mengambil mobil. Tapi disuruh pulang dan akan diantarkan,” ungkapnya. Setelah itu, mobil tidak kunjung dikembalikan.

“Saya datangi lagi kesana, tapi terdakwa mengaku malu dan langsung memukul sebanyak tiga kali,” bebernya saat bersaksi di Pengadilan Militer tingkat pertama, Surabaya, Senin (14/01/2019) lalu .

Karena dianaiaya, keesokan harinya Lailia membuat laporan ke Pomdam V/Brawijaya yang disertai bukti visum.

Saksi juga membeberkan, selama tinggal bersama, dirinya tidak pernah diberikan nafkah oleh terdakwa. Bahkan uang Rp 100 juta hasil dari jual rumahnya yang dipinjam terdakwa untuk digunakan jual beli mobil hingga saat ini belum dikembalikan.

“Terdakwa mengaku akan berbisnis jual beli mobil, dan meminta modal Rp 100 juta, Rp 50 juta saya transfer melalui rekeningnya dan Rp 50 juta saya kasihkan tunai,” bebernya.

Hakim Anggota Letkol Chk Syaiful Ma’arif yang menanyakan adanya tindakan ancaman yang dilakukan terdakwa pasca membuat laporan di Denpom V/Brawijaya, saksi mengaku meminta terdakwa untuk berbohong.

“Saya diminta berbohong. Kalau luka yang saya alami bukan dipukul tapi karena terbentur pohon setelah didorong terdakwa, agar hukumannya ringan,” jawab saksi.
Atas keterangan saksi, terdakwa menyangkal bahwa dirinya telah melakukan pemukulan dan tidak membenarkan dirinya berhutang sebesar Rp 100 juta.

Baca Juga:  Polrestabes Surabaya tahan oknum perwira yang dilaporkan selingkuhi istri orang

“Bukan Rp 100 juta, yang ditransfer Rp 25 juta dan tunai Rp 40 juta dan atas pemukulan itu tidak benar,” sangkal terdakwa saat itu.

Atas sangkalan tersebut, saksi tetap pada keterangannya dan ketua Majelis Hakim juga meminta saksi melampirkan bukti transfer Bank yang juga dibantahnya.

Ditemui usai sidang, saksi menyatakan sering menerima kekerasan fisik yang dilakukan terdakwa, bahkan dirinya sempat diancam akan dibunuh. “Selama ini sudah sering, bahkan sempat mengancam akan membunuh saya. Dan itu terdakwa sempat menceritakan ke temannya,” pungkasnya.@rofik

CAPTION: Kapten Cba Achmad Saiful oknum anggota TNI AD, saat menjalani sidang perdana kasus penganiayaan di Pengadilan Militer tingkat pertama, Surabaya, Senin (14/01/2019). FOTO: Rofik-licom