Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Ini potret kesenian Ludrukan Surabaya yang minim fasilitas
Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra Bambang Haryo ikut tampil di atas panggung sebagai tokoh Adipati Surabaya Jayengrono pementasan Ludruk Sawunggaling di Gedung Ringgodani (Kampung Seni THR) Surabaya, Minggu (31/03/2019) malam. FOTO: sarifa-LICOM
Art & Culture

Ini potret kesenian Ludrukan Surabaya yang minim fasilitas 

LENSAINDONESIA.COM: Di era yang serba modern yang ada di tengah kota metropolitan, seperti di Surabaya, ternyata masih berlaku minimnya fasilitas dalam pertunjukan seni tradisional asli Surabaya, yakni Ludrukan.

Hal ini terlihat saat dimulainya Gelar Ludruk Regenerasi dengan lakon ‘Sawunggaling Arek Suroboyo’ di Gedung Ringgodani (Kampung Seni THR) Surabaya, Minggu (31/03/2019) malam.

Seniman ludruk Sugeng Rogo mengatakan para seninan Ludruk nerasa bersyukur karena saat manggung di Gedung Pringgodani di kompleks THR Surabaya, tak lagi dipungut biaya. Sejak sekitar tahun 2010 telah digratiskan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya agar seniman tradisional tidak kehilangan panggung pertunjukan.

“Selain mendapat keleluasaan menggunakan Gedung Pringgodani, seniman tradisional seperti kami juga difasilitasi perangkat gamelan dan segenap pemain karawitannya yang telah ditanggung sepenuhnya oleh Pemkot Surabaya,” kata Sugeng Rogo pada LICOM.

Mendapat fasilitas tersebut, Rogo tidak menyia-nyiakannya. Setiap hari Selasa dan Kamis, dia bersama teman-teman seniman ludruk lainnya mengupayakan regenerasi dengan memberikan pelatihan secara gratis kepada anak-anak sekolah mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga remaja.

“Kami bimbing anak-anak berlatih Ludruk tanpa memungut biaya,” ucapnya.

Rogo yang juga memiliki kelompok Ludruk ‘Putra Taman Hirra’ kemudian mementaskan anak-anak didiknya rutin setiap bulan sekali di Gedung Pringgodani itu.

Minimal setiap pekan sekali berbagai kelompok kesenian tradisional, seperti Ludruk dan Ketoprak tampil. Untuk penonton hanya dikenakan tiket masuk Rp 10 ribu per orang.

Sementara, saat pertunjukkan Ludruk dengan lakon “Sawunggaling Arek Suroboyo” ada yang menarik. Rogo mengajak Anggota DPR RI Bambang Haryo ikut tampil di atas panggung sebagai tokoh Adipati Surabaya Jayengrono, ayah kandung Sawunggaling. Tak sendirian, Bambang Haryo juga tampil bersama istrinya Asrilia Kurniati.

Baca Juga:  Ratih ditahan, Lucy Kurniasari ditunjuk jadi Plt Ketua Partai Demokrat Surabaya

Bambang Haryo mengaku sangat mengapresiasi Pemkot Surabaya yang telah menyediakan fasilitas panggung pertunjukan bagi seniman tradisional seperti ludruk.

“Memang untuk melestarikan kebudayaan harus dimulai dari perhatian oleh pemerintah daerah. Namun Pemkot Surabaya harus lebih meningkatkan lagi perhatiannya kepada kelangsungan hidup seniman tradisionalnya. Salah satunya mereka bisa mendapat penghasilan setara upah minimum regional,” katanya.

Lebih lanjut, wakil rakyat asal Dapil I Jatim (Surabaya-Sidoarjo) ini juga mendorong agar Pemkot Surabaya kembali menghidupkan pertunjukan kesenian tradisional di lingkungan THR.

“Sejak saya masih kecil THR sudah ada. Dulu, selain menjadi pusat permainanan anak-anak juga telah menjadi jujukan untuk menyaksikan pertunjukan tradisional. Kalau itu dihidupkan kembali, saya yakin bisa menarik wisatawan,” jelas dia.

Tak hanya itu, usai ikut pentas di atas panggung bersama para seniman Ludruk, Bambang Haryo tampak prihatin dan mengelus dada. Dia merasa tempat pertunjukan Pringgodani yang difasilitasi Pemkot Surabaya bagi seniman ludruk lebih menyerupai gedung mangkrak yang telah lama tak terawat.

Hal yang sama juga diungkapkan Penonton Ludruk Saikul Isnaini. Ia mengaku telah datang beberapa kali ke THR hanya untuk menyaksikan pertunjukan Ludrukan ini.

Saikul terlihat asyik menyaksikan pertunjukkan dengan berdiri. Ia memilih tidak duduk di tempat yang ada di gedung itu karena tidak nyaman. Padahal pertunjukkan berlangsung selama tiga jam lamanya.

“Tadi sempat duduk sebentar. Pantat saya terasa gatal-gatal. Saya pilih berdiri saja,” imbuhnya sambil tertawa.

Pria asli Lamongan yang kos di Wonokitru ini merasa ada yang aneh di kursi penonton yang terbuat dari bahan karet berwarna hitam itu.

“Di kursi itu kaya ada tinggi (binatang kutu busuk, red),” tandasnya.@sarifa

CAPTION: Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra Bambang Haryo ikut tampil di atas panggung sebagai tokoh Adipati Surabaya Jayengrono pementasan Ludruk Sawunggaling di Gedung Ringgodani (Kampung Seni THR) Surabaya, Minggu (31/03/2019) malam. FOTO: sarifa-LICOM