Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.  
Surat terbuka mahasiswi Unair: Milenial “jijik” saksikan politik kotor dan para elit Omkos
AKTIVIS

Surat terbuka mahasiswi Unair: Milenial “jijik” saksikan politik kotor dan para elit Omkos 

Redaksi:
Suhu politik mendekati hari H –17 April mendatang– Pemilu 2019, memilih Presiden dan wakil rakyat di lembaga legislatif periode 2019-2024, semakin memanas. Kampanye, bahkan oleh elit pendukung tidak lagi mengedepankan program, tapi mengarah ke prilaku demokrasi kotor, saling serang, dan menyerempet hoaks. “Generasi milenial merasa “jijik” dengan kotornya politik yang dilakukan oleh kalangan elit,” tulis Mahasiswi Fisip Unair, Gratia Wing Arta dalam surat (artkel) terbukanya dan amat tepat ditujukan ke kalangan elit politik, yang dikirim ke LensaIndonesia.com. Berikut uraian lengkap Curhat-nya.
=============================

Dalam sejarah Indonesia generasi milenial sudah aktif dalam kancah politik sekitar tahun 1998. Ketika itu, generasi awal milenial sudah sangat peka terhadap dunia politik dan sangat besar kesadaran berpartisipasi terhadap perpolitikan negeri ini.

Bila kita mencermati lebih jauh perkembangan generasi milenial pada kancah politik, bisa dilihat dari perspektif Benedict Anderson yang pernah menyatakan bahwa generasi milenial sangat dibutuhkan partisipasinya dalam membangun politik yang beradab. Dari sini bisa ditafsirkan bahwa pemikiran Anderson mendukung generasi melenial dalam menegakkan sistem politik yang memihak masyarakat serta berkeadilan.

Demikian pula dengan pemikiran Nurcholis Madjid dalam orasinya di depan para aktivis mahasiwa ‘98 yang menyatakan bahwa dalam melaksanakan politik yang seimbang dibutuhkan partisipasi generasi melenial yang menjunjung tinggi nilai-nilai idealisme dan kejujuran.

Dalam pergulatan politik generasi melenial harus bisa menuangkan ide-ide dan gagasan yang bersifat membangun politik indonesia yang berbasis kemasyarakatan. Dengan begitu dapat memberikan dampak yang besar bagi perkembangan politik indonesia ke arah yang lebih demokratis.

Jika kita memandang politik indonesia secara sosial historis generasi melenial dalam ruang politik sangat dibutuhkan dalam membimbing dan memberikan masukan kepada negara kita yang masih belajar berdemokrasi. Maka, sudah senyatanya generasi milenial berpartisipasi aktif bagi politik Indoneisa agar politik indonesia tidak mengalami pincang sebelah.

Baca Juga:  Bendera Indonesia dibuang di selokan, 43 penghuni wisma mahasiswa Papua digelandang ke Mapolrestabes Surabaya

Mengapa demikian? Keikutsertaan generasi milenial dalam memberikan masukan terhadap politik akan membawa Indonesia kepada sistem politik yang lebih humanis. Oleh karenanya, generasi milenial tidak hanya tinggal diam bila politk telah menciderai demokrasi. Generasi milenial harus bisa “melawan” sistem yang tidak sesuai dengan asas kemasyarakatan dan kerakyatan.

Lebih jauh lagi bila generasi milenial menyalurkan hasrat ke-intelektualannya dalam memberikan sumbangan yang baik bagi politik Indonesia dalam membangun sistem politik yang mengedepankan kepentingan rakyat . Maka, generasi milenial ini sudah menunjukan identitasnya sebagai “agent of change” dan “agent of control” dalam politik serta dengan ini generasi meilenial telah menunjukan partisipasinya sebagai intelektual muda yang menyumbangkan gagasan bagi kemajuan negara dan masyarakat.

Dalam perspektif kritis saya, generasi melenial sekarang ini semakin malas bila harus berhadapan dengan politik. Sepertinya para intelektual milenial ini sudah terlalu percaya bahwa politik kita sudah buram dan tidak dapat diubah serta dikonstruksi menjadi lebih baik lagi. Sebagai mahasiswa yang mempelajari ilmu sosial dan politik menyadari keenganan generasi milenial dalam politik lantaran kebosanan “mereka” (generasi milenial) dengan dunia politik yang hanya bermodalkanj omong kosong dan kelicikan.

Dari peristiwa ini, saya pernah berdiskusi dengan beberapa teman kampus yang sudah merasa “skeptik” atau tidak percaya dengan kebaikan-kebaikan dunia politik. Bisa dikatakan bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan para elit-elit politik telah memberikan gambaran yang buruk tentang politik negara ini . Bila saya meminjam kata-kata kritis dari Soe Hok Gie (aktifis kampus zaman Orla), “Politik kita seperti wajah seorang gadis yang bopeng”.

Saya berani beranggapan demikian karena politik kita menunjukan bahwa kecurangan dan omong kosong (Omkos) adalah senjata utama dalam politik. Sehingga, dampak yang ditimbulkan sangatlah besar. Seperti yang kita lihat para generasi milenial enggan untuk sekedar aktif dan peduli dengan politik, semakin hilang bisa jadi generasi milenial merasa “jijik” dengan kotornya politik yang dilakukan oleh kalangan elit.

Baca Juga:  Polsek Wonokromo diserang, ini kronologis lengkap dan identitas pelaku

Bisa jadi kondisi seperti ini akan terus menghantui generasi melenial. Bahkan, akan menyebabkan generasi melenial semakin antipati serta acuh tak acuh dengan politik. Memang, terkadang sebagian besar generasi milenial merasa enggan berpartispas aktif, karena melihat pemandangan buram politik yang selama ini disuguhkan oleh para elit politik.

Bila saya diperkenankan bebicara jujur, generasi melenial sekarang ini sudah merasa lelah dengan politik negeri ini yang semakin jauh dari kata demokrasi. Politik sekarang ini sudah seperti perang Bharatayudha. Entah, mengapa beberapa diantara lapisan masyarakat dan generasi melenial sudah bosan disuguhi pemandangan politik yang semakin lama semakin buram.

Jadi yang ingin saya nyatakan, sekarang ini bagaimana cara meyakinkan generasi melenial agar mau berkontribusi dalam dunia politik. Juga bagaimana agar milenial bisa menyumbangkan pemikirannya untuk membuat suatu perubahan politik yang lebih baik lagi, dengam pembaharuan politik milenial yang masih sangat jujur dan murni.

Dengan demikian, akan membawa politik negara kita menjadi politik yang berbasis kerakyatan. Sekian! @licom_09

Foto:
Ilustrasi medan perjuangan demokrasi kaum milenial. @dok.jalandamai