Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Voxpol Center: Jokowi-Ma’ruf Amin unggul 48,8 persen, Prabowo-Sandiaga 43,3 persen
HEADLINE

Voxpol Center: Jokowi-Ma’ruf Amin unggul 48,8 persen, Prabowo-Sandiaga 43,3 persen 

LENSAINDONESIA.COM: Voxpol Center Research and Consulting merilis hasil survei terakhirnya terkait elektoral kandidat di Pilpres 2019. Berdasarkan hasil survei, elektabiltas dua Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden di Pemilu 2019, Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga nampak begitu kompetitif.

Survei dari Voxpol Center Research and Consulting ini diselenggarakan pada 18 Maret- 1 April 2019 dengan mengunakan metode multistage random sampling. Jumlah sampel dalam survei adalah 1.600 dengan toleransi kesalahan (margin of error) sebesar ± 2,45 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Survei ini menjangkau 34 provinsi secara proporsional berdasarkan data jumlah populasi pemilih terakhir.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner terhadap responden yang telah terpilih secara acak. Setiap pewawancara mewawancarai 10 responden untuk setiap satu desa/kelurahan terpilih.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research & Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menjelaskan, bahwa peta politik yang semakin kompetitif tersebut terlihat dari selisih elektabilas kedua pasang kandidat yang tidak begitu jauh.

Hasilnya, untuk Pasangan Joko Widodo-Maruf Amin masih unggul perolehan suara sebesar 48,8 persen. Sementera, untuk pasangan Prabowo-Sandi sebanyak 43,3 persen. Sementara, sebesar 7,9 persen yang masih belum menentukan pilihan atau termasuk undecided voters.

“Itu artinya, selisih elektabilitas kedua pasangan ini hanya terpaut 5,5 persen,” ujar Pangi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/4/2019).

“Terkait hal ini, Kedua kandidat dan tim suksesnya harus bekerja keras mengamankan peluang memenangkan kontestasi 17 April 2019 yang tinggal menghitung hari,” sambung Pangi.

Survei pada Partai Politik

Voxpol Center Research and Consulting juga melakukan survei terhadap elektabilitas partai politik peserta pemilu 2019. Hasilnya menunjukkan, jika pemilu legislatif dilaksanakan saat survei ini dilakukan, maka dua partai pengusung kandidat capres mendapat pengaruh coattail effect, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sebesar 24,1 persen, disusul Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sebesar 19,3 persen. Elektabilitas partai-partai di luar kedua partai tersebut berada di bawah 10 persen.

Baca Juga:  Menko Polhukam Wiranto diserang, Kapolsek dan pengawal ikut tertusuk

Pangi menjelaskan, bahwa PDI-P dalam hal ini berpotensi kuat sebagai pemenang pemilu 2019. Hal ini dikarenakan selain mempunyai asosiasi kuat terhadap figur presiden inkumben Jokowi, penyerentakan pemilu legislatif dan pemilu presiden 2019, menciptakan bekerjanya struktur coattail effect, yaitu potensi tergiringnya suara pemilih capres terkuat untuk memilih partai pengusung/pendukungnya.

Sementara, untuk posisi elektabilitas berikutnya yakni Partai Golongan Karya (9,5 persen), Partai Kebangkitan Bangsa (6,1 persen), Partai Demokrat (5,7 persen), Partai Nasional Demokrat (4,3 persen), Partai Amanat Nasional (4,1 persen). Sebanyak 7 partai tersebut memenuhi ambang batas parlemen 4 persen dan dipastikan berpotensi lolos ke senayan.

“Sementara itu, PKS, PPP, dan Hanura sebagai partai lama terancam crashed dari parlemen, jika tidak mampu merebut hati undecided voter,” ujarnya.

Namun demikian, masih ada beberapa partai yang berpeluang lolos ke Senayan dengan mempertimbangkan margin of error, PKS (3,9 persen), Perindo (3,3 persen), PPP (2,9 persen). Perindo menjadi satu-satunya partai baru yang mempunyai peluang besar lolos ke senayan.

Sisanya partai-partai lain elektabilitasnya di bawah 2 persen, seperti Hanura (1,1 persen), PBB (0,3 persen), PSI (0,2 persen), Berkarya (0,2 persen), PKPI (0,1 persen), Garuda (0,1 persen).@licom