Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Sekitar 100 personel pasukan hologram “Jokowi blusukan” ke desa-desa untuk menjumpai warga, akhirnya terpungkasi dengan gemilang. Perjuangan mereka mendongkrak elektabilitas Jokowi-Ma’ruh Amin menghadapi Pilpres 17 April 2019, khusus Jawa Barat dan Banten tidak sia-sia.

Anak-anak muda kreatif ini sepanjang tiga bulan masa kampanye Pilpres 2019, mereka bekerja “all out” ke pelosok-pelosok daerah, terutama Jawa Barat dan Banten itu. Mereka lega dan ‘plong’ mengakhiri perjuangan. Kampanye cara ini pertama di Indonesia, bahkan mampu menjelajahi 90 lokasi dimulai dari Banten hingga wilayah Jawa Tengah. Faktanya lebih edukatif, efektif, relevan, dan lebih ‘oye’ ketimbang menggelar panggung kampanye konvensional di pelosok-pelosok yang biasa didominasi kreatifitas goyang heboh.

Direktur Program Tim Kampanye Nasional, Aria Bima menyampaikan terima kasih dan memberi penghargaan terhadap para milenial yang bekerja tak kenal lelah.

Puncak perjuangan kreatif mereka, dibuktikan dengan menampilkan “Hologram Jokowi” di dua panggung booth di luar Stadion GBK, Sabtu (13/4/2019). Praktis hari itu, Jokowi-KH Ma’ruf Amin seolah tampil di tiga panggung. Satu di panggung akbar Rapat Umum Rakyat bertajuk “Konser Putih Bersatu”. Dua lainnya, di panggung hologram di area luar Stadion GBK.

Hologram Jokowi ini menjelajahi desa-desa terpencil, juga menyapa warga di lereng gunung, pelosok yang belum pernah dijangkau langsung, apalagi oleh pasangan Capres 02. Respons emosi masyarakat, tentu tak ubahnya berhadapan dengan Jokowi blusukan beneran.

“Hologram menembus kantong kekuatan 02, terutama di Jabar dan Banten. Sehingga, terakhir perolehan suara 01 di kandang 02 naik siginifkan berdasarkan survei terbaru,” kata Aria Bima.

Tidak berlebihan upaya itu. Berdasarkan hasil sigi Survey Cyrus, Jokowi-Ma’ruf Amin disebut di Jawa Barat unggul dua digit dari pasangan Prabowo-Sandi. “(Sebanyak) 56,% memilih Jokowi-Ma’ruf Amin, 38,1% memilih Prabowo-Sandi. (Sebesar) 3,2% belum memutuskan, 0,7% tidak memilih, 1,6% tidak menjawab,” ungkap CEO Cyprus Network Hasan Nasbi, Kamis (11/4/2019).

Jawa Barat–jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) sekitar 33 juta pemilih– merupakan lumbung suara terbesar di antara semua provinsi di Indonesia. Praktis, jadi medan tempur paling “seksi” bagi pasangan 01 dan 02, selain Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.

Pilpres 2014 di Jawa Barat, Prabowo Subianto mengalahkan Jokowi dengan mengantongi 61%. Mafhum Pilpres 2019, Jokowi mengerahkan berbagai jurus untuk bisa unggul. Sebaiknya, Prabowo juga berjuang keras menambah elektabilitas untuk tetap menguasai provinsi yang menjadi zona kekuatannya dan dua kali dipimpin kader PKS, partai pengusung Prabowo.

“Mereka (Capres dan Cawapres 02) akan mempertahankan suara perolehan pada 2014 lalu. Mereka akan berjuang paling tidak menambahkan itu,” kata Pengamat politik Universitas Parahyangan, Asep Warlan sebagaimana dilansir tribunnews.com, Kamis (11/4/2019).

Voxpol Center Reseach and Counsulting sehari sebelumnya, Rabu (10/4/2019), merilis hasil survei elektabilitas tak berbeda. Disebutkan survei pada H-7 Pilpres 2019, hasilnya Jokowi-Ma’ruf Amin unggul tipis dengan selisih 5,5% dibanding Prabowo-Sandiaga Uno.

Rupanya, strategi Jokowi blusukan lewat hologram untuk menyampaikan pesan politiknya seolah tampil beneran di panggung, berdampak siginifikan. Masyarakat di desa-desa, wajar, tercengang dan berempati karena teknologi hologram ini langka, termasuk di mata masyarakat perkotaan.

“Seperti beneran, tuh. Gemes aja ama Pak Jokowi. Kagak ada bosanye’,” komentar Bu Ija, bunda muslimah saat menyaksikan Hologram Jokowi di area Masjid Al Huda, Jalan Talang, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/4/2019).

BERJIBAKU DAN KUMPUL

Setelah berjibaku ke pelosok-pelosok daerah, terutama Jabar dan Banten, seluruh personel pasukan hologram “Jokowi blusukan” itu sengaja dikumpulkan Aria Bima di Kampoeng Aer Resto, Pondok Jagung, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten, Minggu malam (14/4/2019).

Saat kumpul bareng itu, mereka seperti merasa saling “plong”. Dari pekerja kreatif mulai tenaga kreatif editor yang bertugas menyunting gambar video Jokowi dan Ma’ruf Amin hingga yang bekerja kasar bagian memasang besi modul perlengkapan media hologram, mereka merasakan kepuasan yang sama.

“Bagi saya, ini pengalaman kreatifitas pertama sebagai editor mengerjakan materi untuk hologram Pak Jokowi-Ma’ruf. Teknik editingnya tidak sulit. Saya senang bisa gabung,” kata Rendra Rasmatra, alumni Trisakti yang terbiasa menjadi editor film dokumenter maupun film indie, saat ikut kumpul bareng.

Sebagian besar anak-anak muda kreatif itu justru datang dari Jawa Tengah. Mereka kumpul bareng setelah perjuangannya berakhir itu, lantaran akan balik ke rumah masing-masing. “Ya, ini (ungkapan saling terima kasih) sebelum mereka balik ke Jateng,” kata Aria Bima.

Direktur Program TKN Aria Bima menjelaskan, ada empat keunggulan dari cara kampanye berbasis hologram yang tidak pernah ada dalam kampanye konvensional.

“Pertama adalah kebaruan. Pada Pemilu 2019 untuk kali pertama ada kontestan yang menggunakan dan memanfaatkan teknologi ini untuk menyosialisasikan gagasan dan program-programnya, Kedua, kampanye hologram ini dapat bergerak lincah, cepat, dan fleksibel,” kata Aria Bima.

Kampanye hologram ini, diakui Aria Bima, dapat dihadirkan di medan-medan yang sulit ditembus dan mustahil dilaksanakan dengan model kampanye konvensional.

Ketiga, menurutnya, kampanye hologram mampu menghadirkan kegembiraan bagi warga yang enonton. “Karena konten hologram dikemas sebagai sebuah pertunjukan datau berkonsep entertainment,” pungkasnya tentang teknologi hasil kreatifitas milenial tanah air ini. @licom_09

Foto:
Hologram Jokowi diserbu milenial saat ditampilan di area luar Stadion GBK. @

Seorang milenial relawan di daerah dengan bangga selfie di depan hologram Capres 01 yang diperjuangkan. @dok. istimewa