Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Soal Prabowo sebelum Pemilu tuding BUMN salah kelola, begini tanggapan Rhenald Kasali
Bisnis

Soal Prabowo sebelum Pemilu tuding BUMN salah kelola, begini tanggapan Rhenald Kasali 

LENSAINDONESIA.COM: BUMN dinilai sudah mampu memberikan kontribusi ekonomi. Ada banyak fakta BUMN mulai bergerak, tidak lagi menjadi lazy company, dan mulai berkontribusi besar pada perekonomian.

Pandangan demikian disampaikan Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali menyikapi tudingan Prabowo Subianto saat debat Capres menjelang Pemilu 17 April 2019 lalu. Prabowo beranggapan bahwa BUMN tidak memberikan kontribusi dan salah kelola.

“BUMN turut berjuang untuk membuka daerah-daerah terpencil, misalnya Angkasa Pura II yang turut mengelola Bandara Silangit, kemudian Banyuwangi yang kini telah diperbesar. Pekerjaan yang kira-kira swasta tidak berani masuk dan pemerintah daerah juga ingin melepas, kini ditangani oleh BUMN,” ungkap Rhenal Khasali.

Saat ini, lanjut dia, BUMN tengah mengembangkan bandara di Purbalingga. “Bayangkan bertahun-tahun ekonomi sudah berkembang di sana, namun masih kurang perhatian untuk pembangunan bandara di wilayah itu. Jalan tol dibangun juga karena pihak swasta tidak ada yang berminat untuk itu, maka di situ lah BUMN masuk,” jelasnya.

Ia mengemukakan, bahwa BUMN juga turun mengaktifkan langkah-langkah mengharumkan nama bangsa, terutama untuk menjalankan amanah pasal 33 konstitusi, yaitu mengambil alih dari asing. Freeport sudah masuk, Blok Mahakam, Blok Rokan juga sudah masuk. Menurut Rhenald, BUMN telah menjalankan peran ini dengan baik.

Terkait tudingan-tudingan terhadap holding BUMN, menurutnya, malah holding BUMN itu dapat membantu kelengkapan dan membuat lebih besar, dan memberikan kemampuan untuk melakukan financial laveraging. Laveraging itu berarti menjadi lebih besar, karena kapasitasnya menjadi lebih besar.

“Saya beri contoh dalam debat kemarin, disebutkan oleh satu narasumber, sampai kapan pun Garuda Indonesia tidak akan pernah untung, karena load factor-nya harus mencapai setidaknya 120 persen, jawabnya karena kita melihat Garuda itu untungnya atau bisnisnya penumpang,” ungkapnya.

Baca Juga:  Aliansi kota Santri lawan kekerasan seksual desak Polres Jombang tindaklanjuti laporan pencabulan

Padahal, kata Rhenald, bahwa bisnis terbersar airlines itu ada di jasa cargo dan selama ini cargo yang menikmati bukan airlines, bukan juga Angkasa Pura. Siapa yang menikmati? Yang menikmati adalah pihak asing di Indonesia.

“Mereka punya perusahaan penerbangan yang khusus mengangkat cargo, mereka mempunyai pelabuhan yang khusus spesialis mengenai cargo,” Papar Rhenald.

Ia mencontohkan, dengan holding seperti yang dilakukan Singapura. Bila Singapore Airlines masuk ke seluruh negara, tidak hanya Singapore Airlines yang akan masuk, tetapi juga airport-nya. Makanya airport Singapore bisa mengelola airport lain di dunia.

“Dengan holding mereka bisa menjamin, kalau saya mengelola airport di negara anda, saya akan bawa cargo, saya akan bawa penumpang. Bisa seperti itu,” ujarnya.

“Indonesia kenapa tidak bisa? Karena kita mainnya sendiri-sendiri, airport sama airlines saling injek-injekkan. Sekarang harus sinergi, sehingga dengan begitu menjadi kuat, besar, dan kita tidak ditertawakan lagi oleh negara tetangga. Airlines kalau hanya mengandalkan passenger sampai kapan pun tidak akan bisa untung,” lanjut Rhenald. @licom_09

Foto (atas):
Renald Kasali, Guru Besar bidang Ilmu manajemen dan Ketua Program Pascasarjana Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi universitas Indonesia. @dok. ist