Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena telah mengeluarkan pernyataan agar masyarakat tetap tenang dan mendukung pihak berwenang.

Pernyataan ini dikeluarkan Maithripala Sirisena setelah terjadinya bom di tiga gereja dan tiga hotel di Sri Lanka saat umat Kristen merayakan Paskah yang menewaskan sedikinya 156 orang.

Maithripala Sirisena juga mengatakan, saat ini aparat berwenang masih menyelidiki kasus ini.

Di Twitter, Menteri Keuangan Mangala Samaraweera mengatakan serangan itu merupakan “upaya terkoordinasi untuk membunuh, kekacauan dan tindakan anarkis” dan mengakibatkan jatuhnya korban “banyak orang tak berdosa”.

Seorang menteri lainnya, Harsha de Silva, menggambarkan “pemandangan mengerikan” di Gereja St Anthony di Kochchikade, dengan mengatakan ia melihat “banyak bagian tubuh berserakan”.

Sejauh ini belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Media massa Sri Lanka melaporkan bahwa turis asing kemungkinan termasuk yang menjadi korban ledakan.

Ada kekhawatiran bahwa ledakan ini tidak terlepas dengan kembalinya anggota kelompok Negara Islam atau ISIS yang menimbulkan ancaman di negara itu.

Sebelumnya ada beberapa insiden kekerasan yang bersifat sporadis di Sri Lanka, yang melibatkan warga umat Buddha Sinhala terkait serangan ke masjid dan bangunan milik umat Muslim di negara itu.

Insiden serangan ini menyebabkan pemerintah Sri Langka sempat memberlakukan situasi darurat pada Maret 2018.

Dilaporkan Gereja Santo Antonius di distrik Kochchikade di Kolombo, Gereja Sebastian di Negombo dan sebuah gereja di Batticaloa di timur negara itu, menjadi sasaran ledakan.

Adapun tiga hotel yang menjadi sasaran ledakan adalah Hotel Shangri La, Hotel the Cinnamon Grand serta Kingsbury Hotels di pusat Kota Kolombo.

Minggu Paskah adalah salah satu perayaan utama dalam kalender umat Kristen.@LI-13

CAPTION: 
Pasukan keamanan Srilanka melakukan penjagaan di depan gereja St. Anthony di Kochchikade yang menjadi sasaran ledakan, Minggu, 21 April 2019. FOTO: ISHARA S. KODIKARA/AFP