LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mencanangkan gerakan membayar zakat, infaq, shodaqoh (ZIS) pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jatim di bulan suci Ramadhan ini.

Salah satu cara unik yang dilakukan, dengan menggunakan pohon ‘keberkahan’ yang ada di halaman Kantor Gubernur Jatim, Jalan Pahlawan Surabaya.

Pohon itu digantungkan kertas warna-warni ajakan untuk shodaqoh, infaq dengan menuliskan nama dan jumlah shodaqoh. Seperti tulisan Gubernur Jawa Timur shodaqoh sebesar Rp 25.000.000.

“Bala bencana tidak akan mendahului Shodaqoh, untuk itu segeralah bershodaqoh. Tradisi berbagi, shodaqoh, mengeluarkan infaq di bulan Ramadhan lebih ditingkatkan lagi,” kata Gubernur Khofifah, Senin (06/05/2019).

Ia berharap dengan meningkatakan ZIS bisa menyempurnakan proses ibadah di bulan Ramadhan. Termasuk ibadah lainnya yaitu sholat tarawih, tadarus dan puasa bisa berjalan baik.

“Jangan lupa mengeluarkan infaq, dan shodaqoh juga,” kata mantan Menteri Sosial ini.

Menurutnya, gerakan membayar ZIS melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Jawa Timur menjadi jalan bagi ASN Pemprov Jatim untuk semakin meningkatkan ZIS. Bisa melalui pembayaran tunai, BPD serta Bank Mandiri.

“Kalau hari ini siapapun yang mau infaq, shodaqoh, bahkan zakat juga bisa. Ada tiga opsi yang bisa dipilih dengan tim yang sudah disediakan oleh Baznas untuk mengkoordinasikan tiap-tiap OPD di pemprov,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikannya, pada pertengahan bulan Ramadhan, Gubernur Khofifah menginginkan agar gerakan membayar ZIS di lingkungan ASN Pemprov Jatim bisa digelar kembali.

“Pada akhirnya, harapan kita keberkahan dan kemuliaan Ramadhan akan Allah turunkan ke bumi Jawa Timur, ke ASN Jawa Timur, ke seluruh masyarakat Jawa Timur, dan tentu ke seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia,” tutunya.

Mengenai potensi zakat Jatim, Gubernur Khofifah menyebut potensi zakat Jatim secara nasional mencapai Rp 213 triliun. Namun yang efektif hanya Rp 6 triliun. Ini masih jauh dari potensi zakat yang bisa dimaksimalkan.

“Kita bayangkan andai zakat bisa dimaksimalkan, tidak ada lagi mushola-mushola yang tempat wudhunya kurang proper, program-program penanganan fakir miskin akan lebih efektif. Mungkin untuk guru-guru ngaji, kita bisa memberikan ruang yang lebih baik,” pungkasnya.@sarifa