Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Direktur PT DLC dimeja hijaukan gara-gara pencemaran nama baik di medsos
Yudi Imran Salimi dan istrinya Nuke Sari menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (15/05/2019). FOTO: rofik-LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

Direktur PT DLC dimeja hijaukan gara-gara pencemaran nama baik di medsos 

LENSAINDONESIA.COM: Yudi Imran Salimi, Direktur PT Development Leadership Corporation (LDC) dan istrinya Nuke Sari Salimi terpaksa harus duduk dikursi pesakitan Pengadilan Negeri Surabaya untuk menjalani sidang, Rabu (15/05/2019)

Pasangan suami istri ini menjadi terdakwa dalam kasus penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap Eben Maha (saksi pelapor) yang disebar melalui media sosial (facebook).

Sidang dengan agenda keterangan saksi kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ahmad Junaidi dari Kejati Jatim menghadirkan Abudul Rohman, selaku saksi yang memberatkan.

Dalam keterangannya, Rohman menjelaskan setelah mendapat telepon dari rekan kerjanya adanya pada postingan terdakwa di facebook dengan akun Yudi Samili dan Nuke Kievieri.

“Setelah saya mendapat kabar (Agustus 2017), saya melihat facebook kedua terdakwa yang mana dengan meng-cropping status saksi dan menambahkan kalimat yang tidak pantas, dengan bahasa songong dan mengajak perang,” ujar saksi Roham yang mengaku berteman di Facebook dengan kedua terdakwa sejak 6 tahun lalu.

Saksi menjelaskan lebih lanjut, dari postingan tersebut banyak komentar pro kontra. Bahkan kedua terdakwa kembali memposting status yang kembali menyerang pribadi saksi pelapor.

“Dibulan yang sama (Agustus 2017), terdakwa kembali memposting status dengan kalimat menghina dan mencemarkan nama baik pelapor,” tambahnya.

Ditemui usai sidang, saksi pelapor Eben Maha menyatakan, bahwa dirinya pada Agustus 2017, memposting status leadership, bahwa seorang pemimpin yang baik, tidak perlu menyatakan dirinya sebagai pemimpin yang baik.

“Yang menilai bahwa pemimpin yang baik itu adalah orang lain, apakah kita sebagai pemimpin yang baik apa tidak,” ungkapnya.

Namun dalam postingannya tersebut, telah di screenshot oleh orang lain dan dijadikan status dengan diberi kalimat yang menurutnya tidak pantas. “Berikutnya kembali meng-upload status yang berkaitan dengan yang awal, namun saya masih diam,” tambah Eben Maha.

Baca Juga:  Pemuda Muhammadiyah sampaikan pemikiran pembangunan pada pimpinan DPRD Surabaya

Namun, dirinya tidak bisa diam setelah kedua terdakwa kembali memposting status dan mencantumkan namanya yang disebut sebagai maling dan plagiat.

“Dalam postingan itu, banyak dibaca dan dikomntari orang banyak. Bahkan keluarga saya juga membaca sehingga saya dirugukan baik materil maupun non materil,” paparnya lebih lanjut.

Pelapor berharap melalui pengadilan, terdakwa yang sempat menangntang untuk melaporkan dirinya ke polisi atas cuitannya tersebut mendapat hal yang setimpal.

“Dalam pengadilan ini, saya sangat percaya kepada Jaksa dan Hakim selaku penegak hukum, dapat memberikan keadilan yang sesuai dengan hukum yang berlaku,” pungkasnya.

Kedua terdakwa dijerat pasal 27 ayat (3) jo pasal 45 ayat (3) UU RI no 19 tahun 2016 tentang perubahan UU RI no 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik (ITE) dan diancam pidana selama 4 tahun penjara.@rofik

CAPTION: 
Yudi Imran Salimi dan istrinya Nuke Sari menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (15/05/2019). FOTO: rofik-LICOM