Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memaparkan penyebab kesalahan sistem informasi penghitungan suara (situng) yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Anggota Bawaslu Rahmat Bagja mengatakan, kesalahan situng tersebut akibat formulir C1 yang bermasalah lantaran dilakukan pemungutan suara ulang (PSU).

Menuturnya, Bawaslu telah menemukan 7.300 kesalahan entri. “Yang jelas ada terdapat 7.300-an kesalahan entri. Kemudian tujuh ribu itu tidak bisa diperbaiki. Kenapa? karena C1 nya yang bermasalah,” kata Anggota Bawaslu Rahmat Bagja dalam diskusi di Jakarta Pusat, Sabtu (18/05/2019).

Bagja mengatakan, temuan ini jauh lebih kecil dari laporan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Relawan IT BPN Prabowo-Sandi melaporkan ada 73 ribu kesalahan entri data situng.

“Kalau di masalah situng tidak terlihat kemudian buktinya 73 ribu ya,” ungkapnya.

Atas temuan itu, kata Bagja, Bawaslu telah merekomendasikan KPU untuk memperbaiki data dalam situng. Perbaikan diminta dimulai dari tingkat kecamatan. KPU diminta menggiatkan kembali unggahan form C1 sampai data di tingkat provinsi.

“Sudah selesai sekarang. Karena dokumen ini sudah ter-publish tidak ada lagi yang mengotak-atik secara sembunyi-sembunyi, itulah bentuk transparansi,” ujarnya.

Bagja menegaskan, situng tidak akan mempengaruhi rekapitulasi berjenjang yang dilakukan KPU. Formulir C1 yang diunggah hanya digunakan untuk mengontrol prosesnya.

“Yang jadi pedoman adalah salinan plano yang dilakukan bersama-sama, bukan situng. Situng hanya jadi informasi ke masyarakat,” tutupnya.@LI-13/medcom

CAPTION: Situng KPU Pemilu 2019. FOTO: media indonesia/ilustrasi