Trending News

17 Aug 2019
Tak becus pimpin partai hingga gagal penuhi PT, DPP Hanura sesalkan OSO kambinghitamkan Wiranto
HEADLINE

Tak becus pimpin partai hingga gagal penuhi PT, DPP Hanura sesalkan OSO kambinghitamkan Wiranto 

LENSAINTONESIA.COM: Gagalnya Partai Hanura untuk lolos memenuhi ambang batas Parliamentary Treshold (PT), faktor penyebabnya dikatakan Osman Sapta Odang (Oso), karena Wiranto, hal sangat menyakitkan banyak kalangan elit politisi Hanura.

Pernyataan Osman Sapta Odang (OSO) ‘mengambinghitamkan’ Wiranto itu disampaikan saat acara buka bersama dengan Presiden Jokowi dan DPD RI di kediaman Oso di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 15 Mei 2019. Pernyataan OSO itu, dinilai dalih untuk lari dari tanggungjawab.

Para pengurus DPD partai Hanura menilai pernyataan Oso tersebut bukan hanya menodai puasa Ramadhan. Apalagi, OSO menyampaikan didepan Presiden Jokowi.

“Kami menyesali pernyataan Osman Sapta. Sebab, menodai puasa Ramadhan dimana kita dalam suasana meningkatkan silaturahmi, dan disampaikan dihadapan Presiden. Seharusnya dalam suasana tata krama, itu marwahnya,” tegas Marsekal Madya (Purn) Daryatmo, Ketua Umum Partai Hanura, di DPP Hanura, Bambu Apus, Jakarta, Minggu (19/5/2019).

“OSO menjadi Ketum Partai Hanura kan karena restu Wiranto, pendiri partai dan Ketum sebelumnya. Ini karena Wiranto diangkat Presiden menjadi Menkopolhukam, yang tugasnya mengkoordinasikan masalah yang berkaitan dengan politik, hukum dan keamanan,” kata Daryatmo.

Menurutnya, seiring berjalannya waktu, Partai Hanura di bawah kepimpinan OSO bukan semakin solid. Tetapi (partai) terjadi perpecahan, akibat model kepemimpinannya yang mengabaikan mekanisme dan aturan partai dalam mengambil keputusan.

Akibatnya, lanjut Daryatmo, mayoritas kader militan Partai Hanura melakukan perlawanan dengan menyelenggarakan Munaslub II yang memberhentikan OSO sebagai Ketua Umum Partai Hanura.

“Oleh karena itu tidak heran partai kami gagal memenuhi ambang batas PT. Namun anehnya, justru OSO menyalahkan Wiranto sebagai penyebabnya. Tanggungjawab Partai Hanura itu ada ditangan OSO (karena sebagai Ketum), bukan ditangan Wiranto sebagai Ketua Dewan Pembina,” ungkapnya.

“Jadi tidaklah berlebihan, apabila kita menduga OSO mau lari dari tanggungjawab. Dan, ini membuktikan keyakinan mayoritas kader, bahwa Partai Hanura dibawah kepemimpinan OSO tidak banyak yang bisa diharapkan,” tegasnya.

Untuk itu, kata OSO lagi, kiranya tidaklah berlebihan juga bila kader dan simpatisan Partai Hanura menuntut Oesman Sapta Odang harus bertanggung jawab atas keterpurukan Partai Hanura pada Pemilu 2019.

“Dia harus secara ksatria mundur dari Kepemimpinan Partai Hanura,” pungkas Daryatmo.

Seperti diketahui, hasil real count perolehan suara Pemilu 2019 di KPU, Partai Hanura mendapatkan suara dibawa ambang batas Parliamentary Thresold (PT) yang harus minimal 4 ersen. Praktis, kader Hanura gagal lolos di parlemen Senayan. @jrk

Foto (atas):
Partai Hanura yang bernomor urut 13 saat melakukan kampanye menjelang Pemilu 2019 lalu. @dok. ist

Pengurus DPP Hanura terpaksa harus berbicara resmi di depan awak media untuk meminta pertanggungjawaban pernyataan OSO terhadap pendiri Hanura, Wiranto. @jrkl

Related posts