Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Polres Lumajang mengungkap sebuah kasus pembunuhan berencana dengan motif tak wajar. Pasalnya, tersangka Hori (43) mengaku nekat melakukan aksinya karena kesal istrinya yang sudah setahun digadaikan Rp 250 juta tak bisa ditebus.

Parahnya lagi, Hori malah salah membunuh orang. Target utamanya adalah Hartono alias Eno (40) warga Desa Sombo, Lumajang, namun yang dibacok hingga tewas adalah Mohammad Toha.

Informasi yang dihimpun Lensa Indonesia, kasus pembunuhan ini terjadi di Desa Sombo, Kecamatan Gucialit, Lumajang. Kasus bermula setahun lalu saat Hori mengaku meminjam uang kepada Hartono alias Eno sebesar Rp 120 juta (versi Hartono pinjam Rp 250 juta).

Sebagai jaminan, Hori menitipkan istrinya, R (35), dibawa Hartono. Selang 7 bulan, Hori mengaku berkali-kali meminta agar istrinya dikembalikan dengan menawarkan sebidang tanah untuk membayar utangnya. Namun Hartono menolak dengan alasan hutang uang harus dibayar dengan uang, bukan tanah.

Kecewa dengan sikap Hartono, Hori pun mulai merencanakan untuk membunuhnya. Pada Senin (11/6/2019) malam, pelaku melihat seseorang yang dikiranya Hartono di Jalan Dusun Argomulyo, Desa Sombo. Tanpa basa-basi, dia langsung menyabetkan celurit yang selalu dibawanya dari belakang ke tubuh korban.

Tapi kemudian Hori menyadari bahwa yang dibacoknya salah orang, jutsru Mohammad Toha (34) yang masih kerabatnya sendiri. Korban langsung dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.

Kapolres Lumajang AKBP Arsal Sahban mengatakan petugas Reskrim telah mengumpulkan barang bukti celurit dan pakaian yang terkena bercak darah. “Menurut hasil visum, ditemukan luka menganga di bagian punggung serta beberapa tulang korban patah,” jelasnya, Selasa (13/6/2019).

Menurut AKBP Arsal Sahban, dalam pemeriksaan awal Hori mengaku telah menggadaikan istrinya. Namun belakangan dia membantah dan menyebut istrinya itu diambil Hartono. “Kami berusaha melakukan rekonstruksi kasus ini secara utuh. Kami butuh fakta-fakta lain untuk meyakinkan bahwa ada tindak pidana lain yang terkait, atau memang hanya kasus pembunuhan berencana. Selanjutnya, polisi akan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mewawancarai pihak-pihak yang diduga terlibat antara lain Hartono, R, dan anak Hori,” tegasnya.

Polisi tak menampik adanya dugaan pelaku merencanakan pembunuhan ini agar hutangnya hangus serta mendapatkan kembali istrinya yang telah digadaikan. “Bila dilihat motifnya, perbuatan pelaku merupakan bentuk degradasi moral karena di luar nalar akal manusia. Kami menjeratnya dengan pasal pembunuhan berencana sesuai pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara,” pungkasnya. @LI-15