Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Sejumlah tokoh senior dan pendiri Partai Demokrat membentuk Gerakan Moral Penyelamatan Partai Demokrat (GMPPD). Mereka mendesak segera dilakukan Kongres Luar Biasa (KLB).

Dalam seruan moralnya, para senir Partai Demokrat itu meminta adanya regenerasi kepemimpinan. Mereka juga menyampaikan hal-hal yang internal partai yang selama ini dinilai meresahkan kader.

“KLB kita tidak susah-susah, Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) tinggal minta AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) untuk memimpin partai ini,” kata PolMax di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (13/06/2019).

Para tokoh senior itu pun setuju bila pucuk pimpinan Partai Demokrat kedepan berada di tangan AHY.

Max menyatakan tak ada penolakan atas kepemimpinan anak sulung SBY ini. Menurutnya, para tokoh senior partai sekapat dengan kepiawaian AHY. Namun, kata dia, tetap semua hal terkait peralihan kepemimpinan harus disepakati kongres, sesuai peraturan partai.

Mantan pembaca berita TVRI ini menyatakan, dorongan KLB bukan sekadar wacana. Pihaknya akan menyiapkan silaturahmi nasional untuk mengundang kader dan keluarga besar Demokrat untuk menyukseskan hal tersebut.

Ini supaya KLB segera terlaksana serta persetujuan forum tertinggi partai untuk memilih pemimpin dan jajaran pengurus di bawah komandonya. Sedianya, KLB baru akan digelar pada 2020. Namun, Max menyebut pihaknya ingin KLB digelar tahun ini.

“Selambatnya pada 9 September 2019 mengingat telah berakhirnya Pemilu 2019 dan memasuki masa Pilkada 2020 demi mengembalikan kejayaan Partai Demokrat di 2024,” kata Max.

Ia membeberkan alasan mendesaknya KLB. Salah satunya yakni perolehan suara Demokrat di Pileg 2019. Menurut Max, diperlukan perombakan partai untuk memaksimalkan kerja dari mesin politik.

“Terkait kondisi ini, diperlukan adanya introspeksi dan evaluasi menyeluruh untuk kemudian bersama seluruh potensi dan kader guna membangkitkan semangat dan mengembalikan marwah serta kejayaan Partai Demokrat,” kata Max.

Terkait hal-hal internal partai yang meresahkan kader, Max menyebut bahwa hal itu tidak lepas dari sepakterjang beberapa kader Partai Demokrat yang pernyataannya kerap membuat ‘gaduh’.

Para kedar yang kerap membuat pernyataan kontroversial di media sosial itu diantaranya Andi Arief, Rachland Nasidik, dan Ferdinand Hutahaean.

Max yang tergabung dalam Presidium Gerakan Moral Penyelamat Partai Demokrat (GMPPD) mengecam pernyataan yang mereka buat.

“Kalau kita lihat pembicaraan di media sosial, itu keluar jalur. Berbicara sesuai keinginan sendiri,” katanya.

Menurut Max, ketiganya kerap melontarkan pernyataan yang tak sesuai dengan marwah, karakter dan jati diri Partai Demokrat. Hal tersebut justru melahirkan inkonsistensi dan kegaduhan.

Max menilai ketiga kader ini merusak internal Demokrat. Mengingat, yang mereka utarakan kerap tak sesuai dengan arahan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

Ia tak memerinci arahan itu, namun yang jelas ketiganya dengan sengaja membuat gaduh. Hal ini yang mengakibatkan Demokrat kontra produktif di Pemilihan Presiden 2019. Salah satunya, kata dia, terkait Demokrat akan membubarkan diri dari koalisi.

Max menyebut tindakan itu tentu bertentangan dengan prinsip partai. Sebab, dukungan kepada Prabowo Subianto-Sandiaga Uno didasari 62 persen pilihan Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Maka, untuk menarik hal itu diperlukan mekanisme serupa.

Untuk membereskan hal ini, Max ingin agar ketiga kader itu tak melulu melontarkan pernyataan nyeleneh ke media. Max mewakili GMPPD juga menuntut permohonan maaf dari ketiga kader yang dianggap bandel itu.

“Kepada yang bersangkutan diwajibkan menyampaikan permohonan maaf dan tidak mengulanginya lagi,” kata Max.LI-13/mc

CAPTION: Politisi senior Partai Demokrat Max Sopacua didampingi politisi senior PD yang tergabung dalam Gerakan Moral Penyelamatan Partai Demokrat (GMPPD). FOTO: antara