Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.   
Jelang tes potensi akademik siswa, orang tua diimbau tak bikin anak stres
Tes akademik siswa PPDB jalur zonasi kawasan (iwan)
EDUKASI

Jelang tes potensi akademik siswa, orang tua diimbau tak bikin anak stres 

LENSAINDONESIA.COM: Mendekati pelaksanaan Tes Potensi Akademik (TPA) Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP jalur zonasi kawasan, para orang tua dan calon murid diimbau tidak risau. Pasalnya, ujian TPA yang akan dilaksanakan pada Senin (17/06/2019) nanti, hanyalah ujian yang biasa dihadapi anak-anak saat sekolah.

Maka dari itu, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Nurul Hartini mengimbau kepada orang tua dan anak agar tenang. Menurutnya, TPA merupakan suatu tes atau ujian yang mengukur kecermatan, ketepatan dan kecepatan anak. “Hasil dari TPA ini tentu saja bagaimana potensi pemahaman dan penalaran siswa,” terangnya, Jumat (14/06/2019).

Menurutnya, keberhasilan dalam mencapai nilai terbaik saat TPA nanti memerlukan dukungan para orang tua. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau orang tua harus lebih bijak dengan tidak menekan secara berlebihan. “Diharapkan orang tua lebih menenangkan anak-anaknya. Orang tua betul-betul support positif, jangan sampai tes TPA ini malah kemudian memberikan satu tekanan, memberikan satu stressor yang lebih kepada anak-anak,” ujarnya.

Sebelum mengerjakan soal TPA nanti, peserta diharapkan mendengarkan instruksi dari tester. Jika peserta masih belum paham dalam teknis pengerjaan soal, lebih baik mengajukan pertanyaan kepada tester. “Karena ujian TPA baru bisa dimulai ketika para peserta sudah paham dalam pengisian soal,” papar Nurul.

Ia memaparkan TPA dipergunakan untuk seleksi SMP masuk Sekolah Kawasan. Ujian TPA meliputi kemampuan berfikir verbal (bahasa), kemampuan berfikir numerical (angka) dan kemampuan berfikir figural (gambar). “Siswa-siswi dengan kemampuan TPA yang bagus, pastinya sudah siap untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang disesuaikan dengan sekolah kawasan itu sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya, Martadi menyampaikan, sebenarnya TPA tersebut berawal saat Dewan Pendidikan Kota Surabaya berupaya mencarikan solusi alternatif terkait pelaksanaan PPDB di Surabaya. Selain itu, TPA itu merupakan hasil dari beberapa masukan dari para orang tua wali murid. “Akhirnya kami bersama Dispendik dan para orang tua murid mencari jalan tengah. Kami kemudian menghadap Dirjen waktu itu,” kata Martadi.

Baca Juga:  Menantu Soekarwo dukung Renville Antonio pimpin Demokrat Jatim

Martadi menyebut Kota Surabaya punya pengalaman hampir 10 tahun saat mengelola sekolah khusus atau kawasan. Maka dari itu, ia optimistis jika penerapan jalur zonasi kawasan di Surabaya bisa berjalan dengan baik. “Saya pikir ini jalan yang terbaik dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk pelaksanaan PPDB,” tutupnya. @wan