Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Ketua Umum Lawyer and Legal berinisial membantah melakukan pemerkosaan terhadap, EDS (22) stafnya di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Korak.

Melalui video yang disebar di beberapa grup WhatsApp, PS menyampaikan bahwa tuduhan pemerkosaan tersebut tidak benar. Karena itu, dirinya akan melakukan klarifikasi.

“Rekan-rekan advokat dan jurnalis, saya bukan ada niat melarikan diri karena dituduh memperkosa, saya sedang memberikan pelatihan terhadap advokat muda mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Siang ini saya pulang ke Surabaya dan akan melakukan konferensi pers soal dituduhkan kepada saya. Itu semua fitnah,” tegasnya dalam video yang diterima lensaindonesia.com di Surabaya, Sabtu (15/06/2019).

Pria yang juga pernah ditahan dalam kasus pemerasan dan kepemilikan senjata api ilegal di Polres Ngajuk ini menyatakan akan membuktikan bahwa dirinya tidah bersalah dalam kasus tersebut.

“Saya tekankan sekali lagi, itu fitnah. Kita akan buktikan siapa yang benar dan siapa yang salah, saya tidak akan lari dalam kejadian ini,” tegasnya.

Dalam video tersebut, PS mengatakan, dirinya menduga ada pihak lain yang sengaja mencemarkan nama baiknya sehingga melakukan tuduhan keji dan mengajak ‘berduel’.

“Namun pesan saya, jangan bersembunyi dibalik wanita (pelapor), dan kalau jantan saya siap bertarung sampai mampus, itu baru jantan jangan memanfaati wanita,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, pada Selasa (28/06/2019) lalu seorang perempuan berinisial EDS melaporkan Parlindungan Sitorus ke Polrestabes Surabaya.

EDS yang merupakan staf di kantor LBH Korak milik PS itu mengaku dirinya telah menjadi korban perkosaan pada Minggu 26 Mei 2019.

Saat itu, dirinya yang hendak mudik, mendadak dihubungi oleh PS untuk masuk kerja dan membuat pledoi.

Karena dianggapnya penting, EDS pun terpaksa berangkat ke kantor LBH Korak milik PS di Jl Kampung Malang Tengah, Surabaya.

“Saat itu (Minggu) pak Parlin minta saya masuk kerja untuk bikin pledoi perkara di Pengadilan Negeri Lamongan. Namun karena saya akan mudik, saya sempat menolak tapi terus diminta masuk,” terangnya dalam keterangan persnya di kantor hukum IPHI Jl Prambanan, Surabaya, Selasa (13/06/2019).

Sesampainya di kantor LBH, EDS korban tidak menaruh curiga terhadap PS, karena istri dan anaknya berada di sana. Namun, setelah istri dan anak pulang, tiba-tiba PS menutup pintu rolling door kantor LBH. “Saat istri dan anaknya pulang, pintu (rolling door) kantor ditutup,” tambahnya.

Lalu, korban yang mengaku sering mandi di kantor saat lembur itu dipanggil masuk ke ruang kerja Parlin. Di dalam ruang itu, PS mendorong EDS ke sofa dan mencumbuinya secara paksa.

“Saya sudah berontak namun kalah kuat. Pelaku membuka pakaian saya secara paksa hingga pakaian dalam saya sobek, lalu memasukan kemaluannya sambil membekap mulud saya,” ungkap EDS.

Korban juga mengungkapkan, selain membekap muludnya, pelaku juga mengancam akan membunuhnya apabila korban menceritakan hal tersebut kepada orang lain.

“Dia mengancam akan membunuh saya kalau bercerita kepada orang lain, apalagi dia punya senpi jadi saya takut,” imbuhnya.

EDS yang mengaku tidak terima dengan perbuatan PS lantas melapor ke Mapolreatabes Surabaya, namun ditolak.

“Saat saya melapor ditolak. Petugas SPKT meminta saya untuk melampirkan surat pernyataan dari pelaku,” pungkasnya.@rofik

CAPTION: 
Ketua Umum Lawyer and Legal berinisial PS. FOTO: video/wa