Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Unit Perempuan perlindungan dan anak (PPA) dalam waktu dekat akan memeriksa ketua Lawyer and Legal berinisial PS yang diduga memperkosa stafnya EDS.

Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni menyampaikan, penyidik masih menunggu hasil visum korban sebagai alat bukti.

“Kami masih menunggu hasil visum korban dari rumah sakit, bila hasilnya sudah keluar, kami segera akan memeriksa terlapor,” terang Ruth Yeni saat dikonfirmasi lensaindonesia.com melalui ponselnya, Sabtu (15/06/2019).

Ruth Yeni juga menjelaskan, dalam perkara ini pihaknya perlu kecermatan baik dari hasil visum, pemeriksaan tempat kejadian perkara juga saksi lainnya.

“Setelah hasil visum keluar, kami tentunya akan melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP) yang diduga dilakukan di kantornya, juga istrinya yang sempat ada disana,” tambahnya.

“Korban ini sudah dewasa, tentunya yang disangkakan pasal KUHP, apakah di sana adanya pemaksaan atau disertai tindak kekerasan, di sana kami harus mengetahuinya,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, pada Selasa (28/06/2019) lalu seorang perempuan berinisial EDS melaporkan PS ke Polrestabes Surabaya.

EDS yang merupakan staf di kantor LBH Korak milik PS itu mengaku dirinya telah menjadi korban perkosaan pada Minggu 26 Mei 2019.

Saat itu, dirinya yang hendak mudik, mendadak dihubungi oleh PS untuk masuk kerja dan membuat pledoi.

Karena dianggapnya penting, EDS pun terpaksa berangkat ke kantor LBH Korak milik PS di Jl Kampung Malang Tengah, Surabaya.

“Saat itu (Minggu) pak Parlin minta saya masuk kerja untuk bikin pledoi perkara di Pengadilan Negeri Lamongan. Namun karena saya akan mudik, saya sempat menolak tapi terus diminta masuk,” terangnya dalam keterangan persnya di kantor hukum IPHI Jl Prambanan, Surabaya, Selasa (13/06/2019).

Sesampainya di kantor LBH, EDS korban tidak menaruh curiga terhadap PS, karena istri dan anaknya berada di sana. Namun, setelah istri dan anak pulang, tiba-tiba Parlindungan menutup pintu rolling door kantor LBH. “Saat istri dan anaknya pulang, pintu (rolling door) kantor ditutup,” tambahnya.

Lalu, korban yang mengaku sering mandi di kantor saat lembur itu dipanggil masuk ke ruang kerja PS. Di dalam ruang itu, PS mendorong EDS ke sofa dan mencumbuinya secara paksa.

“Saya sudah berontak namun kalah kuat. Pelaku membuka pakaian saya secara paksa hingga pakaian dalam saya sobek, lalu memasukan kemaluannya sambil membekap mulud saya,” ungkap EDS.

Korban juga mengungkapkan, selain membekap muludnya, pelaku juga mengancam akan membunuhnya apabila korban menceritakan hal tersebut kepada orang lain.

“Dia mengancam akan membunuh saya kalau bercerita kepada orang lain, apalagi dia punya senpi jadi saya takut,” imbuhnya.

EDS yang mengaku tidak terima dengan perbuatan Parin lantas melapor ke Mapolreatabes Surabaya, namun ditolak.

“Saat saya melapor ditolak. Petugas SPKT meminta saya untuk melampirkan surat pernyataan dari pelaku,” pungkasnya.@rofik

CAPTION: EDS (pakai penutup wajah) saat memberi keterangan pers di Kantor Hukum IPHI Jl Prambanan, Surabaya, Selasa (28/06/2019). FOTO: rofik-LICOM