Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Residivis kasus pembunuhan 5 kali cabuli anak tetangga
AKBP Antonius Agus menunjukkan tersangka dan barang bukti kasus pencabulan
HEADLINE

Residivis kasus pembunuhan 5 kali cabuli anak tetangga 

LENSAINDONESIA.COM: Sajemin alias Mat Sadin (54), warga Jl Bulak Banteng Gang Anggrek, diringkus Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, karena diduga kuat telah mencabuli pelajar kelas 2 SMP yang juga tetangganya sendiri, sebut saja namanya Melati (13).

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Antonius Agus Rahmanto mengatakan tersangka yang sehari-hari berjualan es puter itu ditangkap atas laporan orang tua korban pada Rabu (12/6). “Tersangka kami tangkap sehari setelah orang tua korban melapor,” terangnya, Jumat (14/6/2019).

AKBP Antonius Agus Rahmanto memaparkan, kasus pencabulan bermula saat korban datang ke rumah tersangka untuk membeli minuman es puter. Mendadak Sajemin menarik korban masuk ke dalam kamar dan dicabuli. Kondisi rumah yag sepi karena istri dan anak pelaku tinggal di Sampang, Madura, memudahkan Sajemin melancarkan aksinya.

Takut aksinya terbongkar, Sajemin yang pernah ditahan 11 tahun dalam kasus pembunuhan di Sampang pada tahun 1988 lalu ini kemudian memberikan sejumlah uang dan mengancam korban untuk tidak menceritakan pencabulan tersebut kepada siapapun.

Namun setelah beberapa kali dicabuli pelaku, korban akhirnya tak kuat dan menceritakan kepada orang tuanya. “Korban yang ditanya orang tuanya, akhirnya mengaku sudah 4 kali dicabuli tersangka,” sambung AKBP Antonius Agus.

Selain menangkap tersangka, petugas Unit PPA Polres Pelabuhan Tanjung Perak juga mengamankan barang bukti pakaian yang dikenakan tersangka saat berbuat cabul dan hasil visum korban.

Dalam pemeriksaan polisi, Sajemin mengaku sudah mencabuli Melati sejak Februari hingga Juni 2019. Aksinya tak dilakukan pada bulan Mei karena puasa. “Saya gak sampai memasukkan itu saya kok pak,” dalihnya membela diri.

Atas perbuatannya, tersangka diancam pasal 82 undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. “Ancaman hukuman pidana selama 15 tahun penjara,” pungkas AKBP Antonius Agus. @LI-15