LENSAINDONESIA.COM: Sidang perkara dugaan penganiayaan dengan tersangka Christian Novianto kepala satuan pengamanan (satpam) Perumahan Wisata Bukit Mas digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (04/07/2019).

Dalam sidang dengan agenda mendengar keterangan saksi ini, kuasa hukum terdakwa menghadirkan dua orang untuk diintai kesaksiannya, yaitu Imam Buchori dan Soni Wibisono. Kedu saksi ini merupakan teman profesi terdakwa selaku keamanan di Perum Wisata Bukit Mas.

Dalam keterangannya, kedua saksi mengatakan bahwa mereka mengetahui adanya keributan antara terdakwa dengan Oscarius Yudhi Ari Wijaya (korban) yang merupakan seorang ketua RT di perumahan setempat.

“Ribut-ributnya saya lihat sekitar jam empat sore hari sabtu. Tapi masalah penendangan saya tidak tahu,” kata kedua saksi saat memberikan keterangan.

Di saat bersamaan, penasehat hukum terdakwa menunjukan hasil rekam video saat terjadinya adu mulut terdakwa dengan korban. Namun video tersebut tidak menampilkan saat terdakwa mendendang korban.

Menanggapi hasil rekaman video yang hanya memperlihatkan percekcokan tersebut, Ketua Majelis Hakim Maxi Sigarlaki menyatakan tidak perlu diajukan ke ranah hukum.

“Kalau lihat video seperti itu kenapa harus menjadi perkara,” kata hakim Maxi.

Namun pembuktian JPU Suparlan bukan dari video tersebut, melainkan dari hasil visum korban dari pemeriksaan Rumah Sakit Bhayangkara.

Mendengar hal itu, hakim Maxi menyuruh jaksa menghadirkan saksi dari pihak dokter RS Bhayangkara.”Silahkan dokternya dipanggil di sini,” kata hakim Maxi.

Perkara penganiaayan terhadap Oscarius Yudhi Ari Wijaya yang merupakan ketua RT Cluster Roma Perumahan Wisata Bukit Mas dilaporkan terjadi pada Sabtu 22 Nopember 2018 sekitar pukul 16.30 WIB.

Perselisihan terdakwa dan korban berawal dari laporan warga adanya pelarangan mobil material bangunan masuk perumahan oleh sekuriti.

Kemudian, saat saksi (korban) mendatangi pos satpam untuk mempertanyakan larangan tersebut, terdakwa menyatakan tidak adanya surat izin dari pihak pengembang.

Selain tidak adanya izin dari pengembang, terdakwa juga menyatakan larangan tersebut juga atas perintah atasannya yang merupakan anggota TNI AL, sehingga saksi (korban) berkoordinasi dengan Pomal.

Hal tersebut yang menyebabkan terjadinya percekcokan hingga terjadi tindankan kekerasan dimana terdakwa menendang kaki kiri korban hingga memar yang kemudian melaporkan ke pihak berwajib dan dilakukan visum di RS Bhayangkara.

Atas tindakannya tersebut, terdakwa Christian Novianto dianggap melakukan perbuatan sebagaimana tertuang dalam pasal 351 ayat 1 KUHPidana dengan ancaman hukuman dua tahun delapan bulan.@rofik

CAPTION: Terdawa Christian Novianto didampingi kuasa hukumnya saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis 04/07/2019). FOTO: rofik-LICOM