Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya menyatakan bahwa direktur PT Development Leadership Corporation (DLC) Yudi Imran Salimi dan istrinya Nuke Sari Salimi terbukti bersalah melakukan tindak pidana pelanggaran Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Menyatakan, terdakwa 1 Yudi Imran Salimi dan terdakwa 2 Nuke Sari Salimi terbukti bersalah telah melakukan pencemaran nama baik terhadap saksi (korban) Eben Maha melalui informasi dan transaksi elektronik (ITE),” kata Ketua Majelis Hakim Mashuri Efendi membacakan amar putusannya dalam sidang di PN Surabaya, Rabu (09/07/2019).

Meski menyatakan terbukti sah dan mengikat mekukan tindak pidana ITE, namun majelis hakim hanya menjatuhkan vonis 4 bulan percobaan terhadap kedua terdakwa.

“Menjatuhkan pidana selama 4 bulan percobaan, dan apabila dalam waktu 8 bulan terdakwa melakukan tindak pidana serupa diwajibkan menjalankan putusan pengadilan,” tambah Hakim Mashuri.

Atas putusan yang tidak mewajibkan kurungan penjara tersebut, kedua terdakwa yang merupakan pasangan suami istri ini langsung menyatakan menerima. “Kami menerima Pak Hakim,” ujar kedua terdakwa.

Sementara Jaksa Penuntut umum (JPU) Junaidi dari Kejati Jatim menolak putusan Majelus Hakim dan menyatakan banding. “Kami banding,” tegas Junaidi.

Vonis ini jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebab sebelumnya JPU menuntut kedua terdakwa dengan hukuman 4 bulan penjara.

Hal ini karena terdakwa yang merupakan suami istri itu telah melanggar hukum dengan melakukan penyebaran kebencian kepada saksi (korban) Eben Maha melalui media sosial.

Kedua terdakwa telah melanggar hukum penghinaan dan pencemaran nama baik sebagaimana diatur dalam pasal 27 ayat (3) jo pasal 45 ayat (3) UU RI no 19 tahun 2016 tentang perubahan UU RI no 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik (ITE).

Saksi (korban) Eben Maha saat ditemui usai sidang terkait vonis percobaan yang dijatuhkan kepada kedua terdakwa menyatakan keberatan dan menilai hakim telah melakukan putusan jauh dari rasa keadilan.

“Atas putusan ini kami sangat keberatan dan jauh dari rasa keadilan, dimana terdakwa secara sah dan mengikat terbukti bersalah melanggar UU ITE namun hanya divonis percobaan,” terang Eben Maha.

Saksi juga menyatakan, perbuatan yang dilakukan oleh kedua terdakwa telah merugikan dirinya baik materil dan non materil. “Perbuatan pencemaran nama baik melalui media sosial yang dilakukan terdakwa, sangat berdampak besar secara pribadi, keluarga dan perusahaan kami. Ini menjadi cermin buruk bagi pencari keadilan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pasangan suami istri ini menjadi terdakwa dalam kasus penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap Eben Maha (saksi pelapor) yang disebar melalui media sosial (facebook).

Saksi (korban) Eben Maha pada Agustus 2017, memposting status leadership, bahwa seorang pemimpin yang baik, tidak perlu menyatakan dirinya sebagai pemimpin yang baik.

“Yang menilai bahwa pemimpin yang baik itu adalah orang lain, apakah kita sebagai pemimpin yang baik apa tidak,” ungkap Eben dalam postingannya.

Namun dalam postingannya tersebut, telah di screenshot oleh kedua terdakwa dan dijadikan status dengan diberi kalimat yang menurutnya tidak pantas.@rofik