Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
BNPB awali ekspedisi 584 desa rawan bencana dari Banyuwangi
Kepala BNPB Doni Monardo usai bertamu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parwansa di Gedung Negera Grahadi Surabaya, Jumat (12/07/2019). FOTO: sarifa-LICOM
HEADLINE JATIM RAYA

BNPB awali ekspedisi 584 desa rawan bencana dari Banyuwangi 

LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur Khofifah menerima laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang akan menerjunkan tim ekspedisi Destana (Desa Tangguh Bencana).

Ekspedisi 584 desa rawan gempa dan tsunami akan diawali dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, start ekspedisi sengaja dimulai dari Bayuwangi karena tahun 1994 lalu pernah terjadi gempa dan tsunawi di wilayah Banyuwangi yang memakan korban lebih dari 250 orang.

“Kami ingin mengingatkan kembali ingatan masyarakat supaya tidak lupa sebab peristiwa itu sangat mungkin berulang karena ini peristiwa alam sehingga ada siklusnya atau uang tahunya hanya saja kapan itu kita tidak tahu, makanya perlu senantiasa waspada,” Doni usai bertemu Gubernur Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (12/07/2019).

Ekspedisi Destana 2019 ini, lanjut Doni, bukan hanya di Banyuwangi tapi meliputi seluruh desa yang ada di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa yang berakhir di Provinsi Banten. Daerah-daerah yang pernah terjadi gempa dan tsunami seperti di Pangandaran dan Banten akan menjadi prioritas dari tim ekspedisi BNPB.

“Daerah yang termasuk prioritas bukan hanya dikunjungi tapi juga akan diberikan edukasi kepada penduduk dan sekalian memberikan pola-pola kesiapsiagaan (mitigasi). Sehingga masyarakat tidak perlu takut dan khawatir, yang penting kalau ada kejadian mereka harus tahu bagaimana cara mereka untuk menyelamakan diri,” papar dia.

Dicontohkan, jika ada gempa besar yang dirasakan oleh penduduk sekitar 30 detik maka kurang dari 3 menit tanpa ada peringatan dari alarm atau sirine karena mungkin tidak semua Desa punya fasilitas sirine dan alarm peringatan maka mereka harus segera meninggalkan daerah yang rendah ke tempat yang tingginya sekitar 30 meter.

Baca Juga:  Sekolah asal Batu-Malang ini lantang berbicara di depan UNESCO, ada apa?

“Jadi gampang mengingatnya, 30 detik kurang dari 30 menit segera menuju tempat yang ketinggiannya 30 meter,” jelasnya.

Ia mengakui praktek di lapangan banyak ditemui kendala, sebab tidak semua desa memiliki bukit yang tinggi. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk melihat apa yang ada di sekitar pesisir yang dapat dimanfaatkan. Mengingat, kecepatan air saat terjadi tsunami bisa hitungannya kurang dari 10 menit untuk mencapai pemukiman penduduk.

Makanya kita sampaikan jika ada pohon yang besar hendaknya disiapkan tangga atau tali disitu sehingga sewaktu-waktu terjadi tsunawi masyarakat sudah bisa terlatih.

“Kami juga akan mengajak masyarakat supaya jangan melakukan tindakan yang dapat merusak ekosistem. Terutama manggrov sebab itu bisa menjadi benteng perlindungan masyarakat dari tsunami,” bebernya.

Disisi lain, pihaknya juga mengajak masyarakat pesisir untuk mulai memperbanyak vegetasi (tanaman) yang umurnya bisa ratusan tahun dan diameter batangnya bisa sampai 1-2 meter bahkan ketinggian pohonnya bisa mencapai 30 meter lebih.

“Jadi kalau mulai sekarang harus sudah dirancang sebab kita tidak tahu kapan datangnya musibah itu. Ini juga sama dengan menyiapkan generasi yang akan datang supaya selamat,” imbuhnya.

BNPB dalam ekspedisi Desatana juga akan melibatkan semua pihak termasuk para ulama, tokoh masyarakat dan budayawan untuk menggali potensi-potensi daerah sebab setiap daerah tidak sama sehingga pendekatan-pendekatan ini kita harapkan efektif dan bisa membuat masyarakat sadar.

Ia juga menghimbau para pemimpin di daerah terutama Bupati/walikota, sampai dengan Camat dan kepala desa harus mengetahui apa potensi ancaman daerah masing-masing. Kemudian bagaimana menyiapkan strateginya sehingga mengetahui apa masalahnya dan harus bisa mencarikan solusinya agar kita semuanya bisa selamat.

Ditanya terkait kemungkinan adanya bencana, Doni menegaskan hingga saat ini belum ada satupun teknologi yang bisa mengetahui kapan gempa akan terjadi tetapi pengetahuan terus berkembang.

Baca Juga:  Cerita Risma menolak tawaran kursi menteri dari Megawati dan Jokowi

“Mudah-mudahan dengan perkembangan kemampuan anak bangsa juga mungkin perkembangan dunia semakin bagus ya kemampuan manusia untuk bisa menemukan alat tersebut,” harapnya.

Siklusnya seperti yang terjadi di Pantai Selatan Banten pernah ditemukan hasil penelitian dari sejumlah pakar, hasil uji dengan menggunakan teknik karbon ternyata lapisan karang yang paling bawah berusia 3000 tahun dan diatasnya lagi 1600 tahun dan diatasnya lagi usianya 300 tahun.

Artinya periodesasinya dapat diketahui kisaran 1600 atau 1500 tahun. Kemudian di Pangandaran pernah ada juga soal tsunami ini juga perlu diketahui periodisasinya, tapi kapan terjadinya lagi itu kuasa Tuhan.

Senada, Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan menambahkan BNPB mencatat, terdapat 5.744 desa rawan bencana di Indonesia. Sebanyak 584 di antaranya berada di selatan Jawa. Makanya ekspedisi Destana akan dimulai ke daerah tersebut.

“Ini menjadi hal yang penting kenapa kita lakukan ekspedisi Destana di Selatan Jawa, karena dari 584 desa tadi ada kurang-lebih 600 ribu masyarakat kita yang tinggal di desa itu rawan tsunami. Sebelum tsunami terjadi kita harus tangguhkan masyarakat di sana,” ujarnya.

Ekspedisi BNPB digelar pada 12 Juli-17 Agustus 2019 dan melibatkan beberapa instansi terkait, dari kementerian, pemerintah daerah, lembaga masyarakat, para pakar, hingga relawan. Nantinya, mereka akan mendatangi masyarakat secara langsung dan memberikan edukasi serta simulasi ketika menghadapi bencana.

“Ekspedisi ini akan berlangsung selama 34 hari terbagi menjadi 4 segmen, Jawa Timur 11 hari, kemudian Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Banten. Masing-masing segmen akan diikuti oleh 200 orang peserta dari beberapa unsur ada pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, para pakar,” pungkasnya.@sarifa

CAPTION: Kepala BNPB Doni Monardo usai bertamu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parwansa di Gedung Negera Grahadi Surabaya, Jumat (12/07/2019). FOTO: sarifa-LICOM