Trending News

17 Aug 2019
Bedah buku ‘Lopa Yang Tak Terlupa’ di Gedung DPR RI
Para pembicara bedah buku 'Lopa Yang Tak Terlupa'
Buku

Bedah buku ‘Lopa Yang Tak Terlupa’ di Gedung DPR RI 

LENSAINDONESIA.COM: Sekretariat Jenderal (Setjen) MPR RI bekerja sama dengan Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat menggelar acara bedah buku,
Baharudin Lopa, mantan Jaksa Agung yang disegani di Indonesia berjudul ‘Lopa Yang Tak Terlupa’, Jumat (12/07/2019).

Acara yang berlangsung Ruang Presentasi Perpustakaan MPR, Gedung DPR RI ini dipadati masyarakat dan para pakar terutama dalam bidang yang selama ini digeluti Lopa, hukum.

Buku yang diproduksi oleh Penerbit Imania itu memiliki tebal X + 336 halaman. Karya Alif We Onggang itu ditulis sejak tahun 2001. Dalam buku bersampul warna biru itu terpampang sketsa wajah Baharuddin Lopa.

Lopa, pria kelahiran 27 Agustus 1935, di Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Selatan, merupakan sosok yang penting dalam dunia hukum dan kehakiman, sehingga tak heran bila Presiden Abdurrahman Wahid dalam sampul buku memuji sikap Lopa.

Anggota MPR dari Kelompok DPD, Muhammad Asri Anas, dalam sambutan acara mengatakan, mengenang sosok Lopa seperti membayangkan oases keadilan. “Ketika ada ketidakadilan dalam hukum maka sosok Lopa menjadi perbincangan”, ujar pria yang juga menjadi Ketua Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat itu.

Menurutnya, sosok Lopa merupakan panutan dan menjadi contoh dalam penegakan hukum dan keadilan.

“Saat debat Calon Presiden 2019, baik Joko Widodo maupun Prabowo menginginkan penegakan hukum seperti apa yang pernah dilakukan Lopa,” tutur Asri Anas.

“Bila membayangkan Lopa maka kita membayangkan keadilan,” tambahnya.

Sebagai anak suku Mandar Sulawesi Barat, Asri Anas menyatakan Lopa tidak hanya menjadi kebanggaan suku Mandar namun juga menjadi kebangaan Indonesia.

Untuk itu profil Lopa akan terus disempurnakan penulisannya dan diharapkan menjadi pegangan semua dalam penegakan hukum yang benar. “Terima kasih kepada penulis”, ujarnya.

Bagi Asri Anas, sosok Lopa merupakan sosok yang selalu menarik untuk dibicarakan. Lopa menjadi penegak hukum yang tegas, menurut Asri Anas karena budaya Mandar yang mengajarkan seperti itu. “Kalau dibilang A ya A, kalau dibilang benar ya benar, kalau dibilah putih ya putih,” ucapnya.

Sementara itu, Kabiro Humas Setjen MPR, Siti Fauziah, mengatakan Perpustakaan MPR kerap membahas dan membedah buku-buku penting. Buku yang dibincangkan dalam acara itu menurutnya perlu diketahui oleh masyarakat. “Kali ini kita membahas buku Bapak Lopa”, ujarnya.

Siti Fauziah menyebut dalam buku itu bercerita profil dan upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh Lopa. “Buku ini sangat penting dan perlu dibaca karena banyak pikiran yang dituangkan dalam buku sehingga kehadirannya di tengah masyarakat sangat bermanfaat,” kata Siti Fauziah.

Bedah buku ‘Lopa Yang Tak Terlupa’ ini menghadirkan pembicara Dr. Rahmat Hasanuddin, Prof. Dr. Andi Hamzah, Dr. Arief Mulyawan, Prod. Dr. Muhammad Amri, dan dimoderatori M. Ichsan Loulembah yang mengupas sepak terjadi Baharuddin Lopa yang pernah menjadi Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Indonesia, 9 Februari 2001 – 2 Juni 2001; dan Jaksa Agung Indonesia, 2 Juni 2001 – 3 Juli 2001.@rudi

CAPTION: Para pembicara bedah buku ‘Lopa Yang Tak Terlupa’. FOTO: rudi-LICOM

Related posts