Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Keluarga Cendana serahkan dokumentasi Soeharto ke Arsip Nasional
LENSA DEMOKRASI

Keluarga Cendana serahkan dokumentasi Soeharto ke Arsip Nasional 

LENSAINDONESIA.COM: Keluarga Cendana diwakili Siti Hardijanti Rukmana menyerahkan arsip dan dokumentasi Presiden Soeharto ke Arsip Nasional di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Cilandak, Jakarta, Kamis (18/07/2019).

Dokumentasi ini berupa foto-foto, suara pidato, micro film dan buku-buku saat Soeharto menjabat Presiden RI ke-2 tahun 1966 hingga 1998 serta koleksi pribadi Ibu Tien Soeharto.

Siti Hardiyanti Rukmana dalam sambutannya mengatakan realitas kekinian memiliki tantangan lebih besar dan kompleks. Oleh karena itu, penting memberi landasan kuat kepada generasi muda agar tidak terombang-ambing dalam berbagai pemahaman tertentu yang dapat menghambat pembangunan bangsa.

“Pentingnya memberi landasan kuat kepada generasi muda. Kesadaran terhadap dinamika kesejarahan. Salah satu kelemahan generasi muda adalah kurang hafal sejarah,” ujar Siti Hardijanti Rukmana yang akrab disapa mbak Tutut.

Ia mengungkapkan, sebuah negara bisa besar dan maju karena menghargai jasa pahlawannya. “Bangsa-bangsa yang pandai mengelola jejak langkah peninggalan peradabannya cenderung menjadi bangsa besar, serta unggul dibanding bangsa lain,” ungkapnya.

Menteri Sosial Republik Indonesia Kabinet Pembangunan VII ini menjelaskan dokumen yang diserahkan ke Arsip Nasional tersebut terkait dengan aktivitas dan pencapaian HM. Soeharto selama menjabat sebagai pemimpin eksekutif tertinggi di Indonesia.

“Setiap bangsa harus menyadari jati dirinya. Mengenal dan tahu sejarah bangsanya. Dengan sadar sejarah sebuah bangsa dapat menentukan dengan pasti dan yakin, ke mana bangsa tersebut menentukan titik tujuan perjuangan ke depan,” katanya.

Ia memaparkan, dokumentasi yang diserahkan antara mesin microfilm Indus 4601-11, buku Kumpulan Pidato Ibu Toen Soeharto seri 5-27, mencakup tahun 1968-1998, serta Mikrofilm Pidato Presiden Soeharto tahun 1966-1998.

Dokumen lainnya berupa buku Pidato Presiden Soeharto (1966-1998), mikrofilm dan buku Pidato Ibu Tien Soeharto. Termasuk penyerahan mikrofilm Risalah Sidang Kabinet dan Deklarasi Integrasi Balibo, yakni mendeskriptifkan tekad rakyat Timor Timur untuk bersatu dengan Indonesia. Dokumen yang diserahkan juga menyangkut sejumlah DVD dan album foto-foto jejak rekam Pak Harto.

Baca Juga:  DPRD Jombang mendorong Pemkab berinovasi tingkatkan PAD

Pada kesempatan tersebut, mbak Tutut juga menyampaikan, sadar sejarah membuat sebuah bangsa tahu adab. Mampu meletakkan seseorang pada ‘maqam’ atau tempatnya yang tepat.

“Tidak ada bangsa dan negara yang lepas dari sejarahnya. Namun kemanusiaan harus menjadi prasyarat bagi kita untuk menciptakan peradaban yang lebih manusiawi. Menempatkan para pemimpinnya ke dalam historisitas kemanusiaan tertinggi sebagai khalifah. Selanjutnya dapat menerima kekurangannya sebagai hal manusiawi,” kata anak sulung Soeharto.

Mbak Tutut mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar dapat mengambil uswah; unsur positif dari sejarah masa lalu. Merajut kembali identitas kebangsaan yang luhur dengan basis kebangsaan multikultur.

“Sejarah tidaklah bebas dari ruang dan waktu. Namun harus dipahami pentingnya membaca sejarah. Sejumlah dokumen pak Harto, yang telah kami serahkan ke Negara setidaknya dapat menjadi bagian penting dari sejarah. Mudah-mudahan dokumen itu bisa menjadi salah satu acuan masyarakat dalam menghadapi realitas sosial budaya yang kompleks seperti saat ini,” tutur mbak Tutut.@Rudi