Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Perlu berubah, eksibisi industrial harus lebih melek potensi UKM
EKONOMI & BISNIS

Perlu berubah, eksibisi industrial harus lebih melek potensi UKM 

LENSAINDONESIA.COM: Saatnya ekshibisi industrial mengubah karakter untuk membidik segmen yang sama. Yakni berkolaborasi dengan lain segmen, diantaranya UMKM. Keduanya saling paham dengan potensi masing-masing.

Hal tersebut akan menciptakan dinamisasi dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab, hingga kini pertumbuhan ekonomi Indonesia disumbang oleh UMKM sebesar 60 persen.

Untuk itu, sangatlah pas langkah ini dilakukan secara maksimal di ajang Manufacturing Surabaya 2019′ yang berlangsung pada 17 hingga 20 Juli 2019 di Grand City Convention & Exhibition Center, Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Event Director PT Pamerindo Indonesia, Maysia Stephanie mengatakan, untuk tahun ini membidik UKM misalnya di segmen furniture, packaging hingga ke pengolahan usaha kopi. Dan itu dilaksanakan karena saran dari para tenant untuk berkolaborasi dengan segmen UKM.

“Langkah nyata yang sudah kita lakukan, kami sebagai penyedia informasi untuk para tenant juga menghadirkan dan mengundang komunitas UKM. Bahkan, dari pemerintah daerah Semarang pun menyempatkan datang kesini untuk mendapat informasi apa yang harus disinergikan dengan produk manufactur di sini,” papar Maysia kepada Lensaindonesia.com, Rabu (17/07/2019).

Bahkan, kolaborasi tersebut juga sudah dilakukan oleh perusahaan robotik, Anugerah Tekniktama untuk memanfaatkan packaging, handling, welding hingga painting. Hingga kini, Anugerah Tehniktama juga sudah menggandeng 8 UKM.

Joko Marhendro, GM Anugerah Tekniktama menyampaikan, saat ini kebanyakan para pelaku UKM untuk meraih percepatan dalam produksi, khususnya memerlukan robotik masih terkendala untuk biaya.

“Sebenarnya kalau ngomong jnvestasi robotik, dibilang juga nggak mahal juga nggak terlalu murah. Dari UKM, yang berkontribusi terhadap sinergi dengan UKM ada di segmen otomotif dan furniture. Namun, yang paling mendominasi dari segmen otomotif,” tandas Joko.

Untuk memenuhi kebutuhan robotik di segmen UKM, lanjutnya, hal tersebut bisa ditempuh dengan bekerja sama dengan perusahaan leasing.

Baca Juga:  Presiden dan Gubernur Anies tertawa lepas, drama korupsi bakso dimainkan Menteri Erick Thohir, Makarim dan Whishnu Tama

“Bagi mereka yang sudah membeli dan menggunakan robot justru ordernya meningkat. Dan kita juga mengedukasikan dan memberi guidence menggunakan robot. Dan menurut survey kami, di welding satu robot bisa menggantikan 5 welder. Untuk otomotif, 99 persen akurasinya lebih bagus menggunakan robot di spesifikasi produknya. Di sisi leasing, kita berani menggaransi, jika produk robot kami bermasalah, kami berani buy back. Untuk standard robot, satu robot investasinya sekitar Rp 350juta,” jelas Joko.

Di sisi lain, Rudy Subrata,  Deputy Director Marketing Jababeka Real Estate menjelaskan, terkait dengan sinergi dengan UKM, pihaknya siap menjual pabrikasi di lokasi industrial untuk pengembangan usahanya. Bahkan, khusus untuk UKM pihaknya memberikan diskon 10 persen untuk pembelian lokasi industrialnya.

“Langkah yang kami lakukan, setiap bulan kita gelar tenant gathering mendatangkan UKM sekitar yang tujuannya mereka masuk kawasan industrial. Kita support membuat satu cluster khusus UKM agar bisa maksimal. Dan diharapkan industri besar yang ada di Jababeka bersinergi dengan mereka berikut sharing edukasi. Yang terpenting, kami memfasilitasi networking bagi UKM dengan perusahaan besar untuk percepatan bisnisnya,” terang Rudi.

Ia menambahkan, para UKM saat ini masih memanfaatkan rumah-rumah, kios-kios atau ruko. Untuk itu, memasukkan mereka di kawasan industrial akan mendongkrak perkembangan bisnis UKM.

“Hingga saat ini, sudah sekitar 4 hingga 5 UKM yang memang didominasi segmen otomotif. Bahkan, mereka sudah ada yang automation karena dari salah satu mereka ada yabg lulusan dari Jepang,” ucap Rudi

Selain otomotif, ia berencana menggandeng segmen catering. Hal ini sangat memungkinkan untuk berakselerasi, jika masuk ke industrial, maka produk UKM tersebut akan berbeda.

“Untuk UKM catering, jika masuk dalam kawasan industrial akan lebih berbeda dari kualitas dan kuantitas produknya. Misalnya, dari kecepatan kuantitas produksi dan kadar higenis nya pun standardnya sudah beda untuk kemajuan usahanya,” ungkap Rudi.@Eld-Licom

Baca Juga:  Diresmikan, Tol Layang Jakarta-Cikampek gratis sampai tahun baru, Jokowi: Pembangunannya rumit

Foto: Suasana Manufacturing Surabaya 2019′ yang berlangsung pada 17 hingga 20 Juli 2019 di Grand City Convention & Exhibition Center, Surabaya, Jawa Timur (Jatim).eld